Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

WAJAH ANAK-ANAK KITA


Taufiq Mini dan Moh. Hamim Panitia LP3 Sabda Ria Nada

Sabdarianada.co.id. Keluarga sebagai lembaga terkecil yang kemudian melahirkan anak,  di dalam Bahasa Arab di sebut ( اُسْرَةٌ ) yang artinya ikatan yang kokoh,  kuat,  yang memungkinkan seluruh anggota keluarga satu sama lain saling mengikatkan diri karena  terikat oleh emosi kekeluargaan, rasa, selera dan tujuan hidup yang sama.

Selain istilah ( اُسْرَةٌ ) di dalam Al-Qur'an juga ditemukan istilah lain yaitu  ( قُرْبَى  )  keluarga yang masih ada hubungan kekerabatan baik yang memiliki hak waris maupun tidak. Seperti terdapat dalam Surat an-Nisa' ayat 8


وَاِذَا حَضَرَ الْقِسْمَةَ اُولُو الْقُرْبَى

"Dan apabila diwaktu pembagian itu hadir beberapa Kerabat".

Istlah lainnya adalah ( اَهْلٌ ) keluarga senasab seketurunan yang berkumpul dalam satu rumah. Terdapat misalnya dalam surat At-Tahrim ayat 6

قُوْا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا

"Peliharalah dirimu dan keluargamu dari Api Neraka".

Yang membedakan dari ketiga istilah tersebut adalah, ( اُسْرَةٌ ) sebuah keluarga yang sudah beranak turun dengan jumlah yang banyak. Misalnya ada suami, istri, oarang Tua, mertua dan beberapa orang anak serta menantu, tapi hidup di dalam satu rumah. ( قُرْبَى  )  adalah kerabat dekat yang masih ada hubungan Nasab tapi tidak hidup di dalam satu rumah. Sedangkan  ( اَهْلٌ ) adalah keluarga kecil yang terdiri dari suami, istri dan beberapa orang anak yang hidup dalam satu rumah.

Selain keluarga,  ada kelompok lain yang juga berdekatan dengan kehidupan kita, yaitu tetangga. Di dalam Bahasa Arab  tetangga disebut ( جاَ رٌ ) yang artinya mengalir. Sesuai artinya tetangga bisa memerankan dua fungsi sekaligus. Mengalirkan kebaikan dan keburukan dari luar ketengah-tengah keluarga kita, atau membeberkan kebaikan dan Aib keluarga kita keluar.

Jika tetangga memainkan fungsinya yang pertama, keluarga kita akan ketiban berkah. Banyak kebaikan dari luar yang dibawa masuk kedalam rumah tangga kita, tapi pada saat yang lain juga akan tertimpa susah dengan banyaknya pengaruh jelek yang di bawa masuk kedalam keluarga kita.

Apabila tetangga menjalankan funginya yang kedua, keluarga kita akan menjadi sangat populer sekali. Dengan suka rela mereka bersedia  menjadi corong ajaib, perestasi keluarga kita akan dikenal oleh khalayak, tapi pada saat yang lain Aib keluarga kita juga akan diobral kemana-mana.

Dalam pengertiannya yang lebih luas, tetangga bisa maujud menjadi  teman, kawan, relawan, relasi, rekanan, kekasih atau siapa saja yang berseleweran di kanan-kiri kita,  dengan potensi baik-buruk yang akan mempengaruhi hati dan pikiran kita. 

Mengingat fungsinya yang begitu dahsyat, ibarat pisau bermata dua, Rasulullah selalu mengingatkan kita agar berhati-hati menghadapi tetangga. 


اِسْتَعِيْدُوا بِا للهِ مِنَ الْمُنْفِرَاتِ قِيْلَ وَمَا لْمُنْفِرَاتُ يَا رسول الله  قال: اَلأِمَامُ الْجَائِرُ  يَأْخُدُ مِنْكَ الْحَقُّ  ُوَيَمْنَعُكَ الْحَقَّ . وَالْجَائِرُ السُّوءُ عَيْنَاهُ تَرَاكَ وَقَلْبُه يَرْعَاكَ اِنْ رَأَى خَيْرًا سَتَرَهُ وَاِنْ رَأَى شَرًّا اَظْهَرَهُ. ِ
وَالمَرْئَةُ السُّوءُ تُشِيْبُ قَبْلَ الْمُشِيْب

"Mohon lindunglah kamu kepada Allah dari hal-hal yang paling menakutkan. Sahabat bertanya, apa hal-hal yang paling menakutkan itu ya Rasul.? Nabi menjawab, (1) Pemimpin yang lalim, dia mengambil hakmu dan mencegah hakmu. (2) Tetangga yang jahat. Kedua matanya melihatmu sedang hatinya mengekangmu. Bila melihat kebaikanmu menutupinya, bila melihat salahmu menyebarkannya. (3) Wanita yang rewel, yang bisa membuat ubanmu tumbuh sebelum waktunya tumbuh".
Keluarga terlahir dari cinta kasih
yang diikat dengan tali suci perkawinan



Dengan kondisi keluarga dan tetangga yang beraneka warna ini, lahirlah anak-anak kita dengan wajah dan krakter sejumlah warna-warni keluarga dan tetangga yang mengitarinya. Inilah yang dimaksud Praduk Zaman. Lahirnya Genarasi baru yang tidak jauh berbeda dengan  para pendahulunya  dan orang-orang disekitarnya.


WAJAH ANAK-ANAK KITA MENURUT AL-QUR'AN

Sedikitnya ada tiga Ayat di dalam Al-Qur'an yang berbicara masalah anak.
Pertama anak sebagai ( فِتْنَهْ ) Ujian, cobaan, bencana bagi orang tua / guru dan orang dewasa lain di sekitarnya. Terdapat dalam Surat At-Taghabun ayat 15

إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ۚ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ


"Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar".
Kedua anak sebagai ( عَدُوًّا ) penghalang, penentang, musuh bagi orang tua/guru dan orang dewasa lainnya. Bagian ini juga disebutkan dalam surat At-Taghabun ayat 14


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ 
"Hai orang-orang mukmin, Sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu Maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".

Menurut Ibnu Abbas asbabun Nuzul ayat ini adalah, ada beberapa orang laki-laki Mekah yang telah menyatakan keislamannya. Mereka sangat berhasrat sekali ingin mengikuti Nabi Hijrah kemadinah. Tetapi anak dan istrinya menjadi pengalang, tidak mau diajak hijrah. 

Ketika Fathu mekkah terjadi, mereka dengan mata kepala sendiri menyaksikan kehebatan Sahabat Nabi yang sudah lama meyakini dan mengamalkan ajaran Agamanya. Timbullah kemarahanya kepada anak-anak dan istrinya  yang dulu menjadi penghalang ikut Hijrah kemadinah.Ada keinginan yang kuat akan memberikan hukuman, yang berat kepada anak dan istrinya,  sebelum kemudian turun Surat At-Taghabun ayat 14.



Ketiga Anak sebagai ( زينة ) kebanggaan, perhiasan orang tua/guru dan orang-orang di sekitarnya. Bagian ini terdapat dalam Surat Al-Kahfi ayat 46



المال والبنون زينة الحيوة الدنيا
"Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia".

Untuk anak kelompok pertama dan kedua,  orang tua/guru tidak cukup hanya menyuruh dan memenuhi kebutuhannya, lebih dari itu orang tua/guru harus  bersedia menjadi uswah; contoh, tauladan dihadapan mereka. misalnya ketika orang tua/guru bilang ayo Shalat,  maka Orang Tua/ Guru harus juga melakukannya bersama-sama mereka. Jika tidak, mereka  tetap tidak akan pernah peduli walaupun seluruh kebutuhannya dipanuhi.




Sangat berbeda dengan anak kelompok ketiga. Andai seluruh manusia di bumi  menterlantarkannya, dia  akan tetap menjadi manusia. Dialah Almusthafa, anak-anak pilihan yang mendapatkan bimbingan langsung dari Allah. Secara mandiri dia akan terus aktif mengembangkan diri walaupun tidak diarahkan oleh siapapun. Dia selalu dalam pantauan Dewa seperti Angling kusuma dan Jagad Satria. Tidak menutup kemungkinan anak jenis ketiga ini juga hadir di tengah-tengah keluarga kita. 




Semoa kita selalu dalam bimbingan Allah
Semakin arif di dalam menilai dan memperlakukan anak-anak kita. Amin

Teruntuk anakku
USMAN HAJI NASHRULLAH







Posting Komentar untuk " WAJAH ANAK-ANAK KITA"