Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

PILKADA SERENTAK, MENUNGGU DATANGNYA PEMIMPIN BARU


sabdarianada.co.id. Pilkada serentak 2018 yang diikuti oleh 171 Daerah di seluruh Indonesia telah usai dilaksanakan. Euforia kegembiraan para Pendukung pasangan calon yang dinyatakan unggul oleh penghitung cepat bernama Malaikat Quick Count gegap gempita di mana-mana. Sementara di bagian lain, sayup-sayup tangis sedih  korban bujuk rayu menyayat pilu. Mereka yang merasa dikhianati para pendukungnya. Merasa dikhianati partainya, bahkan dibohongi suara hatinya sendiri yang selalu mengatasnamakan suara rakyat. 
Adakah mereka yang diunggulkan merasa sedih, lalu menangis sesenggukan karena terbayang tanggung jawab berat yang harus segera ia emban, seperti yang dirasakan Khalifah Umar bin Abdul Aziz ketika ditunjuk menggantikan Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik? Jika jawabanya ada, harapan besar masa depan Negeri ini akan lebih baik.
Dikisahkan, ketika Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik mendadak sakit, atas saran penasehatnya seorang ulama' Ahli fiqih Raja' bin Haiwah al Kindi, Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik mulai memikirkan calon Penerus yang tepat yang akan mengantikannya sebagai Khalifah setelah beliau tiada. Raja' bin Haiwah Alkindi berkata; " Salah satu kebaikan seseorang yang pahalanya akan mengalir terus ke alam kuburnya adalah, mengangkat pengganti yang Shaleh sesudahnya". 


Setelah melalui pemikiran dan Istikharah yang mendalam,dengan mempertimbangkan banyak kemungkinan termasuk keadaan anak-anaknya yang masih sangat muda, akhirnya Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik menjatuhkan pilihannya kepada Umar bin Abdul Aziz walaupun bukan anak kandungnya sendiri. Ditulislah surat wasiat yang isinya menunjuk Umar bin Abdul Aziz sebagai Khalifah sesudahnya dan Yasid bin Abdul Malik sesudah Umar bin Abdul Aziz. 


Wafatnya Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik dengan cepat terdiar keseluruh penjuru Negeri. Rakyat berbondong-bondong datang ke masjid, sembari bertanya-tanya siapa gerangan yang akan menggantikannya sebagai Khalifah. Pada saat itulah Raja' bin Haiwah al kindi naik kemimbar membacakan Surat wasiat Sulaiman bin Abdul Malik setelah sebelumnya meminta kepada seluruh hadirin berbaiat untuk mematuhi siapapun yang ditunjuk Khalifah Sulaiman Bin Abdul Malik sebagai penggantinya. 


Mendengar namanya disebut sebagai Pengganti Sulaiman bin Abdul Malik, Umar bin Abdul Aziz bukannya senang, dia malah menangis sejadi-jadinya. Dengan dibimbing oleh Raja' bin Haiwah Umar bin Abdul Aziz naik kemimbar, dan berkata : " Innalillahi wainna ilaihi Rajiun". Ketahuilah wahai jemaah semuanya, hari ini saya telah diuji dengan perkara yang berat ini, tanpa sebelumnya diberi tahu, diajak bicara dan tanpa bermusyawarah dengan kaum Muslimin. Karena itu, hari ini saya membatalkan Baiat ini. Silahkan kalian pilih seseorang yang akan menjadi pemimpin kalian. 


Hadirin serentak berkata: "Wahai Amirul mu'minin, kami telah memilih dan menerima anda seagai pemimpin. Silahkan kami pimpin dengan kebaikan dan keberkahan. 


Mendengar semua itu, umar bin Abdul Aziz merasa sudah tidak ada jalan untuk menolak. Ahirnya ia melanjutkan orasi pertamanya di hadapan umat Islam yang telah memilihnya. "Jika itu yang kalian inginkan ketahuilah, saya melarang siapapun mendekat kepadaku kecuali dengan lima perkara. Pertama, mengadukan hajat orang yang tidak kuasa mengadukannya. Kedua, membantuku dalam kebaikan. Ketiga, menunjukkan jalan kebaikan kepadaku, sebagaimana saya dituntut meniti jalan tersebut. Keempat, tidak melakukan Ghibah terhadap rakyat. Kelima, tidak melawan keputusanku untuk hal-hal yang bukan urusannya". 


Setibanya dirumah, Umar bin Abdul Aziz kembali menangis sesenggukan, hingga istrinya menegur. " Wahai Amirul mu'minin, apa gerangan yang paduka risaukan?". "Saya telah diuji oleh Allah dengan jabatan yang sangat berat ini. Saya teringat orang-orang muskin, para janda, para tawanan, anak mereka banyak sedangkan rizqi mereka sedikit. Saya takut kelak diahirat mereka menuntutku sebagai Khalifah. Saya pasti tidak akan menang menghadapi mereka, karena pembela mereka adalah Rasulullah". 


Begitulah Khalifah Umar bin Abdul Aziz, pemimpin luar biasa walaupun bukan produk Pilkada. Hanya dalam waktu 2 tahun 5 bulan beliau menjabat, hampir tidak ada orang yang dianggap berhak menerima Zakat. Masyarakatnya makmur, sehingga harta hasil zakat dipergunakan untuk membiayai pernikahan pemuda yang tidak mampu dan untuk biaya Haji. 


Semoga Pilkada kita mampu melahirkan pemimpin serupa, Amin
Sumbermalang, 1 Juli 2018








Posting Komentar untuk "PILKADA SERENTAK, MENUNGGU DATANGNYA PEMIMPIN BARU"