Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

SABDA RIA NADA DISTRIBUSIKAN 600 PAKET DAGING KURBAN

Suasana pemotongan Daging Kurban Yayasan Sabda Ria Nada, 20 Juli 2021

Sabdarianada. Id | "Sesungguhnya Allah menetapkan ihsan (kebaikan) pada segala sesuatu. Maka jika kalian membunuh hendaklah kalian berbuat ihsan dalam membunuh, dan apabila kalian menyembelih, maka hendaklah berbuat ihsan dalam menyembelih. (Yaitu) hendaklah salah seorang dari kalian menajamkan pisaunya agar meringankan binatang yang disembelihnya.” (H.R. Muslim). 

Hadis inilah yang dijadikan dasar oleh para Fuqoha' dalam menetapkan Syarat-syarat penyembelehan. Dalam Syariat Islam, penyembelihan  dilakukan dengan menggunakan pisau yang tajam, dengan memotong tiga saluran pada leher bagian depan, yakni: saluran makanan, saluran nafas serta dua saluran pembuluh darah, yaitu: arteri karotis dan vena jugularis. 

Tentu saja proses ini baru bisa dilaksanakan setelah sebelumnya Binatang sembelehan berhasil dijinakkkan, dengan cara diikat menggunakan Tali-tali besar kemudian dirobohkan oleh beberapa orang yang sudah terlatih. Tidak urung pada bagian ini mengalami kegagalan, sehingga banyak diberitakan di pelbagai Media adanya Sapi mengamuk sebelum berhasil dirobohkan. 

"Satu. .  Dua.... Tiga..., Jilbeg" Terdengar Sapi dengan bobot dua Kwintal lebih berhasil dirobohkan. Tak lama berselang dengan wajah dingin sambil komat kamit membaca doa, juru sembeleh yang telah ditunjuk mendekati hewan yang sudah tidak berdaya itu. 

"Sroooot...... Sroooot, huk.. Hukk....srooot... "darah muncrat dari sela-sela dedaunan (orop) yang menutupi leher Sapi yang mulai robek. Pekik Takbir sejumlah Santri memenuhi angkasa mengiringi denyut hewan Kurban  yang kian melemah. 

Tak jauh dari tempat itu, wajah sebagian santri putri terlihat memerah. Naluri keibuannya tergugah menembus ribuan tahun yang silam. Terbayang wajah Ikhlas putra Ismail yang  terbaring pasrah menjalankan titah Robnya. 

"Allahu Akbar.. Allahu Akbar... Allahu Akbar walillahi alham". 

Begitulah sedikit gambaran suasana Hidmat penyembelehan Hewan Kurban di Halaman Yayasan Sabda Ria Nada Sumbermalang Kabupaten Situbondo. Ajang Tahunan ini dilaksanakan sebagai wujud Syukur kepada Allah, SWT serta dalam rangka memupuk kebersamaan antara warga madrasah dengan masyarakat sekitar. 

Untuk perayaan Idul Qurban tahun 2021 ini Yayasan Sabda Ria Nada Menyembeleh 3 ekor sapi, serta 5 ekor kambing. Hewan-hewan Kurban tersebut berasal dari Ahmad Muhlisin Tlogosari  1 ekor sapi, Pak Kusnadi Tlogosari 1 ekor sapi, Pak Sugiar Baderan 1 ekor Sapi, pak Cung Tlogosari 1 ekor kambing, G. Masturi Tlogosari 1 ekor kambing, Zaubaida Luthfiah Tlogosari 1 ekor kambing. Sementra 2 ekor kambing sisanya dikumpulkan dari iuaran Siswa dan Dewan Guru. 

Selanjutnya daging kurban tersebut didistribusikan kepada para Mustahiq di Desa Sukberargo, Tamankursi, Baderan, Tlogosari, Kalirejo dan Tamansari. 

MENGUJI KEBENARAN SYARIAT ISLAM

Sedikitnya ada dua model penyembelehan yang paling banyak dipraktekkan oleh masyarakat di berbagai belahan dunia. Pertama, Model Syariat Islam yaitu penyembelehan tanpa proses pemingsangan. Kedua, Model Barat yaitu penyembelehan melalui proses pemingsangan dengan cara  terlebih dahulu memukul bagian belakang kepala Binatang yang akan disembeleh. 

Adalah Prof.Dr. Schultz dan koleganya, Dr. Hazim. dua orang staf ahli peternakan dari Hannover University  Jerman dikabarkan telah melakukan  penelitian terstruktur untuk menjawab pertanyaan: manakah yang lebih baik dan paling tidak menyakitkan; penyembelihan secara Syari’at Islam yang murni (tanpa proses pemingsanan) ataukah penyembelihan dengan cara Barat (dengan pemingsanan)? 

Keduanya merancang penelitian sangat canggih, mempergunakan sekelompok sapi yang telah cukup umur (dewasa).Microchip EEG dipasang di permukaan otak yang menyentuh titik (panel) rasa sakit di permukaan otak, untuk merekam dan mencatat derajat rasa sakit sapi ketika disembelih. Di jantung sapi-sapi itu juga dipasang Electro Cardiograph (ECG) untuk merekam aktivitas jantung saat darah keluar karena disembelih.

Untuk menekan kesalahan, sapi dibiarkan beradaptasi dengan EEG maupun ECG yang telah terpasang di tubuhnya selama beberapa minggu. Setelah masa adaptasi dianggap cukup, maka separuh sapi disembelih sesuai dengan Syariat Islam yang murni, dan separuh sisanya disembelih dengan menggunakan metode pemingsanan yang diadopsi Barat.

Selama penelitian, EEG dan ECG pada seluruh ternak sapi itu dicatat untuk merekam dan mengetahui keadaan otak dan jantung sejak sebelum pemingsanan (atau penyembelihan) hingga ternak itu benar-benar mati.

Dari hasil penelitian yang dilakukan dan dilaporkan oleh Prof. Schultz dan Dr. Hazim di Hannover University Jerman itu dapat diperoleh beberapa hal sbb:

Penyembelihan Menurut Syariat Islam

Hasil penelitian dengan menerapkan praktek penyembelihan menurut Syariat Islam menunjukkan:

Pertama:

pada 3 detik pertama setelah ternak disembelih (dan ketiga saluran pada leher sapi bagian depan terputus), tercatat tidak ada perubahan pada grafik EEG. Hal ini berarti bahwa pada 3 detik pertama setelah disembelih itu, tidak ada indikasi rasa sakit.

Kedua:

pada 3 detik berikutnya, EEG pada otak kecil merekam adanya penurunan grafik secara bertahap yang sangat mirip dengan kejadian deep sleep (tidur nyenyak) hingga sapi-sapi itu benar-benar kehilangan kesadaran. Pada saat tersebut, tercatat pula oleh ECG bahwa jantung mulai meningkat aktivitasnya.

Ketiga:

setelah 6 detik pertama itu, ECG pada jantung merekam adanya aktivitas luar biasa dari jantung untuk menarik sebanyak mungkin darah dari seluruh anggota tubuh dan memompanya keluar. Hal ini merupakan refleksi gerakan koordinasi antara jantung dan sumsum tulang belakang (spinal cord). 

Pada saat darah keluar melalui ketiga saluran yang terputus di bagian leher tersebut, grafik EEG tidak naik, tapi justru drop (turun) sampai ke zero level (angka nol).

Hal ini diterjemahkan oleh kedua peneliti ahli itu bahwa: “No feeling of pain at all!” (tidak ada rasa sakit sama sekali!).

Keempat:

karena darah tertarik dan terpompa oleh jantung keluar tubuh secara maksimal, maka dihasilkan healthy meat (daging yang sehat) yang layak dikonsumsi bagi manusia. Jenis daging dari hasil sembelihan semacam ini sangat sesuai dengan prinsip Good Manufacturing Practise (GMP) yang menghasilkan Healthy Food.

Penyembelihan Cara Barat

Pertama:

segera setelah dilakukan proses stunning (pemingsanan), sapi terhuyung jatuh dan collaps (roboh). Setelah itu, sapi tidak bergerak-gerak lagi, sehingga mudah dikendalikan. Oleh karena itu, sapi dapat pula dengan mudah disembelih tanpa meronta-ronta, dan (tampaknya) tanpa (mengalami) rasa sakit.

Pada saat disembelih, darah yang keluar hanya sedikit, tidak sebanyak bila disembelih tanpa proses stunning (pemingsanan).

Kedua:

segera setelah proses pemingsanan, tercatat adanya kenaikan yang sangat nyata pada grafik EEG. Hal itu mengindikasikan adanya tekanan rasa sakit yang diderita oleh ternak (karena kepalanya dipukul, sampai jatuh pingsan).

Ketiga:

grafik EEG meningkat sangat tajam dengan kombinasi grafik ECG yang drop ke batas paling bawah. Hal ini mengindikasikan adanya peningkatan rasa sakit yang luar biasa, sehingga jantung berhenti berdetak lebih awal.

Akibatnya, jantung kehilangan kemampuannya untuk menarik darah dari seluruh organ tubuh, serta tidak lagi mampu memompanya keluar dari tubuh.

Keempat:

karena darah tidak tertarik dan tidak terpompa keluar tubuh secara maksimal, maka darah itu pun membeku di dalam urat-urat darah dan daging, sehingga dihasilkan unhealthy meat (daging yang tidak sehat), yang dengan demikian menjadi tidak layak untuk dikonsumsi oleh manusia.

Disebutkan dalam khazanah ilmu dan teknologi daging, bahwa timbunan darah beku (yang tidak keluar saat ternak mati/disembelih) merupakan tempat atau media yang sangat baik bagi tumbuh-kembangnya bakteri pembusuk, yang merupakan agen utama merusak kualitas daging.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa secara ilmiah  penyembelihan dengan cara syariat Islam ternyata lebih ‘berperikehewanan’. Apalagi ditambah dengan anjuran untuk menajamkan pisau untuk mengurangi rasa sakit hewan sembelihan.

Semoga Allah membimbing dan menerima Ibadah kurban kita, Amin. 

Sumber : Portal Resmi Kabupaten Bogor, edisi 9 Juni tanpa tahun

Posting Komentar untuk "SABDA RIA NADA DISTRIBUSIKAN 600 PAKET DAGING KURBAN"