Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

MUNAJAT KAUM TERTINDAS

Doa bersama dan Khotmil Quran di Area Pemakaman Bujuk Arsyah Baderan


Sabdarianada Id | Kisah ini saya kutib dari buku Munajat Sufi,  buku Serial tarjemah Bahasa Indonesia Kitab Ihya Ulumuddin Karya Imam AlGhazali, RA yang diterbitkan oleh MitraPress cetakan Maret 2009. 

Diceritakan dari Anas bin Malik  RA, bahwa di masa Nabi ada seorang pedagang dari Syam menuju Madinah. Dalam menjalankan dagangannya ia tidak bergabung dengan Kafilah manapun. Ia lebih suka menyerahkan nasibnya hanya kepada Allah, SWT semata. 

Suatu hari  ketika ia berangkat dari Syam menuju Madinah tiba-tiba dihadang oleh seorang penyamun yang mengacung-ngacungkan pedangnya dari  atas punggung kuda. 

Di bawah ancaman pedang, pedagang itu tidak bisa berbuat banyak. "Ambillah hartaku, dan biarkan aku melanjutkan perjalanan", serunya lirih. 

"Harta itu memang akan kumiliki, tapi aku juga menginginkan dirimu", bentak sang Penyamun. 

"Hartaku semua telah kuserahkan padamu,  apalagi yang masih kamu inginkan dariku..? Ijinkan aku melanjutkan perjalanan", pinta pedagang itu memelas. 

"Tidak bisa.., aku juga menginginkan dirimu", ketua gerombolan Penyamun kembali membentak. 

"Baiklah, tapi berilah aku kesempatan berwudhu dan memanjatkan doa kepada Allah yang maha Agung", pinta pedagang pasrah. 

Gerombolan penyamun mengijinkan. Pedagang itu mengambil Wudhu' dan melaksanakan Sholat empat Rokaat. Selesai salam ia menengadahkan kedua tangannya. 

"Duh Tuhan yang maha pengasih,  wahai Tuhan yang maha penyayang. Wahai Tuhan yang maha mengembalikan, wahai Tuhan yang maha melaksanakan apa yang dikehendaki. Aku memohon dengan cahayaMu yang memenuhi sudut-sudut Arasymu".

"Aku memohon padamu dengan kekuasaannmu yang mengusai semua mahluq, dan dengan Rahmatmu yang meliputi segala sesuatu. Tiada Tuhan yang berhak disembah selain engkau. Duhai Tuhan yang maha Penolong, Tolonglah Aku". Dengan khusuk pedagang itu mengulang doa ini sebanyak tiga kali. 

Belum selesai pedagang itu berdoa, tiba-tiba muncul seorang laki-laki gagah berjubah hijau menunggang kuda berbulu kelabu. 

Ketika gembong Penyamun melihatnya, ia langsung menyongsongnya. Namun Penunggang Kuda itu berhasil menarik dan melempar tubuh penyamun dari kudanya. Tampa membuang-buang waktu, ia menghampiri pedagang, "Bangun, dan bunuh penyamun itu..!".

Pedagang merasa keheranan, " Siapakah gerangan engkau wahai Tuan? Demi Allah seumur hidup aku tidak pernah membunuh. Aku tidak kuasa melakukannya". 

Secepat kilat penunggang kuda menghampiri penyamun dan membunuhnya. Orang asing yang berhasil menghabisi nyawa penyamun itu berkata, 

"Aku adalah Malaikat yang turun dari langit ketiga. Ketika pertama kali kamu berdoa aku mendengar suara gemerincing di pintu-pintu langit. Kami para Malaikat bergumam, ada suatu Kejadian!. 

Kemudian muncullah doamu yang kedua sehingga pintu-pintu langit terbuka dan tampak percikan Cahaya seperti kembang Api. Dan ketika doamu yang ketiga, turunlah Malaikat Jibril AS dan berseru, "Siapakah yang bersedia menolong orang yang sedang meminta pertolongan itu..?"

Selanjutnya aku meminta ijin kepada Allah agar mengijinkanku untuk  melaksakannya. Ketahuilah wahai hamba Allah, Siapa saja yang berdoa dengan doamu ini ketika dalam kesedihan, penderitaan dan suatu bencana, maka Allah akan melepaskanya dari kesedihan dan menolongnya".

Setibanya di Madinah Pedagang itu menceritakan semuanya kepada Rosulullah, SAW. Memdengar cerita pedagang itu Rosulullah berkomentar, "Sungguh Allah telah mengajarkan Nama-mananya yang baik kepadamu, yang jika kamu berdoa dengan menyebut nama-nama itu, maka akan dikabulkan doamu. Jika dia diminta pertolongan dengan menyebut nama-nama itu, ia pasti akan menolongmu". 

Setelah membaca kisah ini Hati saya meradang, pikiran melayang-layang. Sejak Maret 2020 ketika pertama kali  wabah Corona menghantam Indonesia, entah sudah berapa puluh ribu kali doa kita panjatkan, namun situasinya belum juga ada perubahan. Wabah Corona semakin tidak bisa kita bendung. Korban jiwa di mana-mana menyesakkan dada. 

Adakah yang salah dari doa kita? Atau jangan-jangan dosa kita sudah sedemikian banyak sehingga tidak satupun doa yang kita panjatnya mampu mengetuk pintu langit? 

Yang pasti, Allah dan Rasulnya tidak pernah ingkar janji

Semoga Allah membimbing dan memaafkan kita, Amin

Posting Komentar untuk "MUNAJAT KAUM TERTINDAS"