Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

SENI BERBUKA PUASA

Written By Erwin Astutik*

sabdarianada Id | Selama ini, kita mengenal ibadah puasa hanya sebagai rutinitas ibadah yang wajib dilaksanakan oleh umat Islam yang sudah baligh dan berakal pada bulan Romadhon. Padahal lebih dari itu, berpuasa memiliki segudang manfaat untuk kesehatan manusia bahkan dianggap mampu menyembuhkan penyakit kronis. Itu artinya, bukan hanya pahala yang mampu dapat kita tuai melainkan juga investasi kesehatan dimasa yang akan datang. Lalu Bagaimanakah mekanisme kerja tubuh saat berpuasa, sehingga mampu menyehatkan tubuh dan menyembuhkan penyakit ?

Ketika berpuasa tubuh (pada bagian pencernaan) memiliki waktu untuk istirahat dan memperbaiki diri lebih lama. Kondisi tersebut dapat mengembalikan tubuh pada keseimbangan alaminya. Disamping itu, tubuh dapat memperbaiki sistem metabolisme dan sistem kekebalan tubuh menjadi lebih baik. Mekanisme tersebut pemicu tubuh untuk mendaur ulang sel darah putih lama. Sehingga imunitas kita meningkat. Imunitas adalah obat alami bagi tubuh. 

Pada dasarnya puasa tidak dapat mengobati penyakit secara langsung, akan tetapi dengan berpuasa dapat memberikan kesempatan pada tubuh untuk istirahat dari rutinitas pekerjaan, termasuk istirahat dari mengelola makanan dan minuman. Dengan cara tersebut energi yang biasa digunakan oleh tubuh bekerja mengelola makanan, ketika berpuasa akan digunakan untuk melakukan perbaikan-perbaikan kerusakan pada tubuh. Itulah sebabnya puasa dapat mengobati berbagai penyakit kronis. 

Saat berpuasa, tubuh akan melakukan detoksifikasi secara alami. Dengan tidak adanya makanan yang masuk ke dalam lambung, organ-organ tubuh seperti hati dan limpa membersihkan diri dari racun racun. Racun-racun yang dibuang tersebut menjadi 10 kali lebih banyak dari biasanya (dibandingkan dengan tidak berpuasa). Sehingga proses penuaanpun bisa dihambat untuk sementara waktu dan menjadikan wajah kita akan tampak lebih berseri. Disamping itu, berpuasa dapat menyehatkan jantung, menurunkan resiko kanker, mengurangi resiko terinfeksi penyakit dan menurunkan berat badan.

Segudang manfaat dari berpuasa tersebut bisa kita dapatkan apabila  berpuasa dengan baik dan benar. Salah satunya yaitu dengan tidak berbuka puasa dan sahur secara berlebihan. 

Kurang lebih selama 13 jam umat Islam yang menjalankan ibadah puasa diwajibkan menahan haus dan lapar di bulan romadhon. Sehingga tidak heran, saat berbuka puasa kita menyantap berbagai makanan diatas piring yang mungkin setinggi tumpengan. Tak lupa didahului dengan minuman dan makanan manis yang sudah menjadi tradisi dan merupakan sunnah nabi. Aktifitas puasa yang dilaksanakan selama beberapa jam dapat memicu terjadinya nafsu makan yang berlebihan. 

Menurut Dokter Archana Baju yang merupakan ahli gizi klinis di Rumah Sakit Burjeel, Abu Dhabi mengatakan bahwa setelah berpuasa selama berjam-jam, metabolisme tubuh melambat. Sehingga saat berbuka puasa sangat penting untuk makan secara perlahan dan tidak berlebihan agar dapat membantu kinerja pencernaan lebih mudah. 

Makan dan minum secara berlebihan saat berbuka puasa dapat menyebabkan gangguan perencanaan seperti perut kembung, begah, nyeri perut dan gejala gerd (asam lambung yang naik sampai kerongkongan disebabkan katub lambung tidak berfungsi maksimal). Disamping itu, berbuka berbuka puasa dengan berlebihan dapat menyebabkan rasa lemas dan kantuk berlebih yang menyebabkan malas untuk beribadah. Sehingga, tidak heran, pada saat bulan romadhon seringkali kita merasa tidak dapat merasakan nikmatnya sholat tarawih, salah satunya disebabkan oleh beban perut yang terlalu berlebihan.

Dalam kitab Mu'jam Alfaz Al-Qur'an Al-Karim karya Muhammad Ali An Najjar menyebutkan bahwa Sikap Berlebihan disebut dengan al-israf yang merujuk pada hal negatif dengan makna keluar dari batas keseimbangan. Sikap berlebihan tersebut bisa dalam bentuk apa saja, misalnya dalam hal berlebihan mengonsumsi makanan dan minuman. 

Allah berfirman dalam surat Al-A'raf ayat 31. 

 يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ 


“Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (Q.S. Al-A'raf : 31)

Berdasarkan ayat tersebut, Allah SWT melarang hambanya untuk berlebih-lebihan dalam setiap aktivitas kehidupan. Salah satunya, yaitu dalam mengonsumsi makanan dan minuman agar berada pada batas wajar dan tidak melampaui batas (berlebihan). 

Disamping itu, Nabi Muhammad SAW bersabda :

ما ملأ آدميٌّ وعاءً شرًّا من بطن، بحسب ابن آدم أكلات يُقمن صلبَه، فإن كان لا محالة، فثُلثٌ لطعامه، وثلثٌ لشرابه، وثلثٌ لنفَسِه  

Artinya : “Tiada tempat yang manusia isi yang lebih buruk ketimbang perut. Cukuplah bagi anak adam memakan beberapa suapan untuk menegakkan punggungnya. Namun jika ia harus (melebihinya) maka hendaknya sepertiga perutnya (diisi) untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk bernapas.” (HR. Ahmad).

Hadits diatas mengandung makna tersirat bahwa, apabila seseorang tidak merasa cukup dengan makanan yang hanya dapat menegakkan punggungnya (makanan yang sedikit) maka hendaknya kadar makanan dan minuman yang dikonsumsi tidak melebihi kadar dua per tiga perut agar ia dapat menyisihkan sepertiga perutnya untuk bernafas dengan mudah. 

Dalam perkara al-akl fauqa as-syiba' (makan terlalu kenyang), para ulama memiliki perbedaan pendapat. Sebagian ulama, seperti imam Ar-Rafi'i dan Imam An-Nawawi menghukumi makan terlalu kenyang sebagai perbuatan makruh. Sedangkan ulama lainnya menghukumi sebagai bentuk perbuatan yang diharamkan. Pendapat tersebut dijelaskan dalam kitab Fath Al-Mu'in, sebagai berikut :

وصرح الشيخان بكراهة الأكل فوق الشبع وآخرون بحرمته

Artinya :  “As-Syaikhan (Imam An-Nawawi dan Ar-Rafi’i) menegaskan kemakruhan makan terlalu kenyang. Sedangkan ulama lain berpandangan tentang keharaman hal tersebut.” (Syekh Zainuddin al-Maliabari, Fath al-Mu’in, juz 3, hal. 367)

Mengonsumsi makanan dan minuman terlalu kenyang, standarnya berada di atas kelaziman orang merasa kenyang, yaitu apabila telah sampai pada kadar batas tersebut orang pada umumnya akan berhenti makan. Sedangkan, melebihi kadar batas tersebut masuk dalam kategori berlebihan.

Marilah kita senantiasa belajar untuk berbuka puasa dengan ikhlas, tanpa harus menghiasinya dengan "ajang balas dendam" mengikuti hawa nafsu untuk makan dan minum secara berlebihan yang pada kenyataannya, tidak memberikan manfaat namun justru memberikan pengaruh buruk bagi kesehatan.

Sepertihalnya sebuah karya yang membutuhkan seni agar terlihat indah dan bermutu. Begitu juga dengan berbuka puasa yang tidak bisa dijadikan sebagai ajang balas dendam untuk mengonsumsi makanan dan minuman secara berlebihan. Sehingga kita dapat menuai manfaat dan pahala dari ibadah puasa secara bersamaan. 

Semoga Allah membimbing dan menerima Puasa Kita, Amin. 


Referensi : 

Azalea Botanicals. 2022. Puasa Adalah Obat Dari Segala Penyakit. https://instagram.com/azaleabotanicals?igshid=YmMyMTA2M2Y=  

Dewi, Bestari Kumala. 2021. Jangan Makan Berlebihan Saat Berbuka Puasa, Ahli Jelaskan Alasannya. https://www.google.com/amp/s/amp.kompas.com/sains/read/2021/04/20/130300223/jangan-makan-berlebihan-saat-buka-puasa-ahli-jelaskan-alasannya

Handayani, Verury Verona. 2021. Hindari Makanan Berlebihan Saat Berbuka Puasa, Ini Sebabnya. https://www.halodoc.com/artikel/hindari-makan-berlebihan-saat-berbuka-puasa-ini-sebabnya

MUI Digital. 2022. Larangan Israf Atau Berlebihan-lebihan Dalam Makan Dan Minum. https://mui.or.id/hikmah/33145/larangan-israf-atau-berlebih-lebihan-dalam-makan-dan-minum/

Nahdlatul Ulama Online. 2019. Larangan Makan Terlalu Kenyang Dalam Islam. https://islam.nu.or.id/ubudiyah/larangan-makan-terlalu-kenyang-dalam-islam-fju53


* Penulis adalah guru MTs Sabda Ria Nada Sarjana Manajemen Pendidikan Islam YayasanYatim Mandiri Indonesia Sidoarjo. Tinggal di Rt. 03 Rw O1 Tlogosari Sumbermalang


Posting Komentar untuk "SENI BERBUKA PUASA"