Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

KETIKA RASA KUFUR LEBIH NIKMAT DARIPADA RASA SYUKUR"

Written by Erwin Astutik

Sadarianada Id | Saat mentari pagi menyapa, terdengar suara ayam berkokok membangunkan kita. Mulai membuka mata, menyambut dunia dengan segala aktivitas dan rutinitas setiap harinya. Entah sebagai si A yang masih berjuang dibangku sekolah maupun kuliah atau si B yang sudah mulai sibuk bekerja. Kaki yang kuat dan sehat dibantu tangan yang sigap mempersiapkan segala kebutuhan untuk memulai aktivitas pagi. Bahkan disepanjang perjalanan, alam menyuguhkan panoramanya untuk dinikmati mata secara sukarela dan bahkan sampai dititik ini, nafas masih berhembus dengan mudahnya. Lalu, sudahkah kita bersyukur hari ini ?

Kata "Syukur" berasal dari Bahasa Arab "Syakara-Yasykuru-Syukran" yang bermakna "Pujian Karena Mendapatkan Sesuatu". Qasim Al-Qusyairi memaknai syukur sebagai berikut :

حقيقة الشكر عند أهل التحقيق الاعتراف بنعمة المنعم على وجه الخضوع            

 Artinya, “Hakikat syukur menurut ahli hakikat adalah pengakuan atas nikmat Allah, Zat pemberi nikmat, dengan jalan ketundukan,” (Lihat Abul Qasim Al-Qusyairi, ar-Risalatul Qusyairiyyah, [Kairo, Darus Salam: 2010 M/1431 H], halaman 97).

Secara sederhana, bersyukur dapat diartikan sebagai rasa "Berterimakasih" dan mengakui atas segala bentuk kenikmatan yang telah Allah SWT berikan.

Bersyukur merupakan salah satu kewajiban manusia kepada Tuhannya. Tanpa adanya rasa syukur, manusia akan menjadi hamba yang kufur atau mengingkari segala nikmat yang Allah SWT berikan. 

Perintah untuk bersyukur dapat kita temukan dalam Al-Qur'an, surah Al-Baqarah ayat 152.

فَاذْكُرُوْنِيْٓ اَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْا لِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِ                    

Artinya : Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.

Begitu pentingnya rasa syukur,  Allah SWT menjanjikan kenikmatan hidup bagi orang yang bersyukur yang terabadikan dalam ayat Al-qur'an sebagai berikut :

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لاَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ.          

 Artinya: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni`mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni`mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih" (Q.S Ibrahim, Ayat 7). 

Berdasarkan ayat diatas, Allah SWT mengingatkan hambanya untuk senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang telah dilimpahkannya. Saat kita bersyukur, Allah menjanjikan sebuah tambahan nikmat bagi hambanya. Lantas, masihkah ada alasan untuk tidak bersyukur ? 

Jika rasa syukur wajib dilakukan, seperti apakah cara bersyukur yang benar ? Cukupkah hanya dengan mengucapkan hamdalah? atau hanya sebatas mengingat kenikmatan hidup yang Allah SWT berikan?

Sebagian ulama membagi syukur kedalam 3 bentuk, yaitu pengakuan atas lisan dengan nikmat Allah SWT, pengakuan oleh anggota badan atas ibadah yang diperintahkan dan syukur hati dengan Musyahadah (Al-Qusyairi, 2010 M/1431 H: 97-98).

1. Bersyukur Dengan Lisan

Cara mensyukuri nikmat Allah SWT dengan lisan, yaitu dengan mengucapkan hamdalah (Alhamdulillah). Mengucapkan hamdalah merupakan ungkapan rasa syukur minimal yang harus dilakukan oleh manusia. Disamping itu, bersyukur melalui lisan tidak cukup hanya mengucapkan "Alhamdulillah", akan tetapi harus diiringi dengan menjaga lisannya dari ucapan-ucapan atau kalimat yang kurang baik, yaitu dengan berkata yang baik-baik.

Pada dasarnya, manusia yang bersyukur melalui lisan akan senantiasa menjaga atau berhati-hati terhadap ucapannya agar tidak menyakiti orang lain. Terkadang, terlintas sejenak bahwa setiap fakta atau kebenaran harus diutarakan, tanpa memikirkan perasaan lawan bicara. Alhasil, perkataan yang kita anggap lumrah dan biasa saja menyakiti lawan bicara. Itulah pentingnya sikap berfikir sebelum berbicara, bukan berbicara lalu berfikir. 

Disamping itu, orang yang bersyukur tidak akan merasa keberatan untuk meminta maaf kepada orang lain saat melakukan kesalahan dan begitupun sebaliknya, orang yang bersyukur dengan lisannya akan mudah memaafkan orang lain. Allah SWT saja maha pemaaf, lantas apa yang membuat kita sulit memaafkan orang lain ?

Begitupun kepada Allah SWT, manusia yang senantiasa bersyukur akan lebih mudah dan bersegera memohon ampun tatkala melakukan dosa. Hal tersebut selaras dengan firman Allah SWT :

وَسَارِعُواْ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ.                                 

Artinya:  “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu” (Q.S Ali Imran, Ayat 133). 

Ayat diatas menganjurkan kepada manusia untuk segera memohon ampunan dari Allah SWT, serta perkara memohon maaf dan memaafkan diantara sesama manusia harus segera dilaksanakan. Bukankah lebih cepat lebih baik? Sungguh betapa banyak kerugian-kerugian yang muncul akibat hubungan yang kurang baik antar sesama teman, tetangga dan bahkan saudara, hanya karena persoalan maaf memaafkan yang belum terselesaikan.

2. Bersyukur Dengan Hati

Bersyukur dengan hati dapat diwujudkan dalam bentuk perasaan senang, ikhlas dan sabar dengan segala ketentuan dari Allah SWT, baik pemberian berupa kenikmatan yang menyenangkan atau takdir yang berujung kesedihan. 

Manusia yang senantiasa bersyukur akan lebih mudah mencapai kebahagiaan dalam hidupnya terlepas dari sukses atau tidaknya seseorang tersebut di dunia. Allah SWT, memerintahkan hambanya untuk selalu bersyukur kepadanya sebagaimana nikmat yang diberikan tidak akan pernah terhitung jumlahnya. Allah berfirman dalam Al-Qur'an: 

فَبِأَيِّ آلاء رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ                                  

Artinya : “Nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” ( Q.S Ar-Rahman, Ayat 13)

Ayat tersebut diulang berkali-kali dalam surah Ar-Rahman yang mengisyaratkan kepada manusia agar sejenak merenungkan betapa banyaknya kenikmatan yang Allah SWT anugerahkan. Dari sekian banyak nikmat yang allah berikan, manakah yang engkau dustakan? 

3. Bersyukur Dengan Perbuatan

Bersyukur dengan perbuatan dapat diwujudkan dengan dua bentuk yaitu bersyukur dengan hanya melibatkan diri sendiri dan bersyukur dengan melibatkan orang lain.

Bersyukur dengan melibatkan diri sendiri, yaitu dengan dengan meningkatkan kualitas ibadah. Sebagaimana yang dicontohkan Rosulullah SAW.

Dari Aisyah r.a berkata, Rosulullah SAW ketika melaksanakan shalat maka beliau berdiri hingga kedua kakinya bengkak. Aisyah r.a bertanya "wahai Rosulullah apa yang engkau berbuat sedangkan dosamu yang telah lalu dan yang akan datang telah diampuni". lalu beliau menjawab " Wahai Aisyah, bukankah seharusnya aku menjadi hamba yang banyak bersyukur" (H.R Bukhari Muslim).

Subhanallah, hamba Allah SWT yang paling sempurna dan sudah dijamin masuk surga tetap Istiqomah melakukan ibadah melebihi manusia lain pada umumnya. Ibadah tersebut dilakukan oleh Rosulullah SAW, semata-mata sebagai bentuk rasa syukurnya atas segala nikmat yang Allah SWT berikan kepadanya. Bagaimana dengan kita ? Manusia tanpa jaminan Syurga, yakin bisa berada didalamnya, namun kualitas ibadah begitu-begi saja.

Sedangkan bersyukur dengan perbuatan yang melibatkan orang lain dapat tercermin dari berbagi kegembiraan, rezeki, ilmu pengetahuan dan lain sebagainya. Itulah salah satu sebabnya seringkali kita mendapatkan undangan syukuran yang merupakan salah satu bentuk bersyukur melibatkan orang lain dengan berbagi rezeki sebagai wujud rasa terima kasih atau syukur atas segala nikmat yang Allah SWT berikan.

Apabila ditelusuri lebih jauh undangan syukuran semacam itu selaras dengan firman Allah SWT.

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ.                                

 Artinya: “Dan terhadap ni`mat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan.” (Q. S Adh-Dhuha, Ayat 11).

Berdasarkan ayat tersebut, Allah SWT memerintahkan hamba-nya untuk berbagi kenikmatan dengan orang lain, dengan tujuan merasakan kebahagiaan yang sama.

Marilah kita senantiasa bersyukur, tanpa mencari celah untuk bersikap kufur. Sejatinya, bukan hanya nikmat berupa kesenangan atau kebahagiaan yang harus disyukuri. Namun, cobaan yang Allah SWT berikanpun patut kita syukuri. Seringkali nikmat yang Allah SWT berikan akan kita sadari kenikmatannya,  ketika Allah SWT mencabut nikmat itu sendiri. 

Setiap perbuatan yang dilakukan secara berulang-ulang akan menjadi sebuah "Habits". Habits adalah aktivitas yang dilakukan secara terus-menerus, sehingga menjadi bagian dari hidup yang sering kita sebut sebagai "kebiasaan". Dalam perihal syukur dan kufur, apabila manusia senantiasa membiasakan diri untuk bersyukur, maka akan sulit untuk berbuat kufur. Karena didalam dirinya sudah tertanam kebiasaan untuk selalu bersyukur. Begitupun sebaliknya, manusia yang seringkali membiasakan diri untuk bersikap kufur, akan sulit untuk bersyukur. Dikarenakan, sikap bersyukur yang seringkali dilupakan akan terasa berat untuk dilaksanakan. Sehingga rasa kufur akan menjadi lebih nikmat daripada rasa syukur.

Sumber rujukan :

NU Online. 2017. Tiga Cara Mengungkapkan Syukur Kepada Allah. https://islam.nu.or.id/khutbah/tiga-cara-mengungkapkan-syukur-kepada-allah-9mblD

NU Online. 2021. Syukur Dalam Kajian Para Sufi. https://islam.nu.or.id/tasawuf-akhlak/syukur-dalam-kajian-para-sufi-c5i1A#:~:text=Hakikat%20syukur%20dapat%20juga%20berarti,dengan%20menyebut%20kebaikan%20hamba%2DNya 


2 komentar untuk "KETIKA RASA KUFUR LEBIH NIKMAT DARIPADA RASA SYUKUR" "

  1. Sangat menyentuh, wawasannya cukup luwes dan smg dpt mengimplementsiikannya. Amin....

    BalasHapus