18 JUTA UNTUK NABI, MAHALKAH ?*
![]() |
| Ancak MI. Sabda Ria Nada pemenang Juara 2 |
Sabdarianada.Id | SUMBERMALANG - Sore itu lapangan Yayasan Sabda Ria Nada tidak seperti biasanya. Bukan hanya bendera dan balon Maulid yang berayun. Ada ancak-ancak yang berdiri gagah, seperti gunung-gunung kecil dari ketan, buah dan doa. Ada suara anak-anak santri yang berdebar, ada mic yang berdengung, dan ada terop yang memeluk ribuan pasang mata.
Lalu seseorang bertanya, pelan, di antara riuh sholawat:
“Habis berapa acaranya ?”
Mari kita buka dengan jujur. Bukan untuk mengeluh, tapi untuk menghitung cinta.
Yang gampang-gampang saja, yang keluar langsung dari kas Yayasan, sudah Rp. 18.350.000. Belum termasuk yang keluar diam-diam dari kas tiap kelas, dari dompet para guru, wali santri, dari dapur yang tidak pernah mencatat lelahnya.
- Hadiah Ancak: Rp. 3.000.000
- Hadiah Lomba: Rp. 2.200.000
- Hadiah Paskibra: Rp. 2.800.000
- Streaming: Rp. 1.000.000
- Terop, Kursi, Salon: Rp. 2.650.000
- Transport Muballigh: Rp. 2.500.000
- Dapur: Rp. 2.000.000
- Kambing: Rp. 1.500.000
- Juri Ancak: Rp. 700.000
18 juta lebih. Untuk satu nama. Muhammad Rasulullah Rasulullah, SAW. Belum termasuk biaya kegiatan Agustus dan Safari Maulid yang dilaksanakan mulai Tanggaln11 Agustus - 11 Sepetember 2026 kemaren. Jika semua lelah dirupiahkan sepanjang Agustus-September 200 juta pun habis tinggal utang.
Mahalkah?
Pertanyaan itu pernah ditanyakan langit kepada bumi, di tahun 9 Hijriah. Musim panas yang membakar Madinah. Kebun kurma sedang ranum-ranumnya, setahun mereka menunggu panen. Di saat itulah Rasulullah memanggil: Romawi datang, kita harus ke Tabuk. Jarak 800 km, 20 hari perjalanan di atas pasir mendidih.
Perang itu tidak disebut Perang Tabuk saja. Ia disebut Jaisyul Usrah Pasukan di Saat Sulit. Unta saja harus ditunggangi bergantian, 10 bahkan 18 orang untuk satu unta.
Dan di saat sulit itu, Rasulullah tidak meminta darah. Ia meminta harta.
Lalu berdirilah seorang lelaki tua yang hartanya paling banyak di Mekkah, Abu Bakar Ash-Shiddiq. Ia datang membawa kantong. Bukan separuh. Bukan sepertiga. Semua. 4000 dirham. Semua hartanya.
Rasulullah bertanya, dengan suara bergetar: “Apa yang kau tinggalkan untuk keluargamu, ya Abu Bakar?”.
Ia menjawab kalimat yang sampai hari ini membuat kita malu menghitung: “Aku tinggalkan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya.”
Lalu datang Utsman bin Affan. Pedagang yang kafilahnya baru pulang dari Syam. Ia tidak membawa kantong. Ia membawa masa depan. Dalam satu riwayat ia datang dengan 1000 dinar emas dan 300 unta lengkap dengan pelana dan senjata. Dalam riwayat lain, 950 unta, 50 kuda dan 1000 dinar, bahkan ia menanggung sepertiga biaya seluruh pasukan. Rasulullah membolak-balikkan dinar itu di tangannya dan berdoa:
“Tidak ada yang membahayakan Utsman setelah hari ini atas apa yang dia perbuat.”
Lalu Abdurrahman bin Auf, si tangan emas Madinah. Ia datang dengan 200 uqiyah perak, dalam riwayat lain 4.000 dinar setara 1,7 kilogram emas hari ini, ia letakkan di hadapan Nabi. Nabi mendoakannya: “Semoga Allah memberkati apa yang telah engkau tinggalkan dan apa yang engkau sumbangkan.”
Umar datang dengan separuh hartanya. Abbas, Thalhah, Sa’ad datang dengan tumpukan harta. Bahkan wanita-wanita mencopot kalung dan gelang mereka. Dan Abu Aqil yang miskin, hanya membawa satu mud kurma, dua liter kurma yang dipikul di punggungnya semalaman.
Allah merekam air mata mereka yang tidak punya apa-apa untuk dibawa:
“...dan mata mereka bercucuran air mata karena sedih tidak memperoleh apa yang akan mereka infakkan.” (QS. At-Taubah: 92)
Jadi, mahalkah 18 juta untuk Nabi?
Jika Abu Bakar memberikan 100% hidupnya, Utsman memberikan sepertiga tentara, Abdurrahman memberikan kilogram emasnya, lalu kita masih bertanya tentang 18 juta untuk panggung, sound, kambing, dan hadiah anak-anak yang bersholawat?
18 juta itu bukan biaya acara. Itu harga rindu.
Itu bukti bahwa di Sumbermalang , di tahun 2026, masih ada hati yang memilih merugi di dunia untuk untung di akhirat. Masih ada yayasan yang berani berkata: untuk Maulid Nabi, kami tidak akan berhitung pelit.
Karena cinta memang tidak pernah murah. Tapi ia tidak pernah mahal jika untuk Rasulullah SAW.
Semoga setiap rupiah yang keluar dari kas yayasan, dari kas kelas, dari dompet para Guru, Alumni, wali santri dan Simpatisan, dicatat seperti dinar Utsman, dirham Abu Bakar, dan perak Abdurrahman di Tabuk. Dan semoga Rasulullah tersenyum melihat ancak-ancak kita kemarin, sebagaimana beliau tersenyum melihat unta-unta Tabuk dulu.
Maka di akhir tulisan ini, mari kita tutup dengan doa. Karena 18 juta itu keluar bukan dari langit. Ia keluar dari keringat.
Doa untuk setiap ikhtiar yang menopang Yayasan ini:
Ya Allah, Ya Rozzaq, Ya Ghoniy...
Berkahilah Argopuro Walida. Jadikan setiap tetes keringatnya, setiap biji kopinya, , setiap meja Damarkandang yang dijaga pagi dan petang, sebagai aliran rezeki yang halal dan thoyyib. Jauhkan seluruh kekuarga dan Karyawannya dari penyakit, dekatkan pembelinya dari segala penjuru.
Berkahilah Petabyte, keluarganya,berkahi usahanya, lindungi jaringannya, sehatkan karyawannya, ramahkan pelanggannya.
Berkahilah pertanian kami. Setiap sawah, setiap ladang, setiap benih yang ditanam guru-guru kami. Turunkan hujan di waktu yang baik, jauhkan hama yang merusak, lipat gandakan panennya.
Ya Allah, berkahilah EK Sekar Decoration.
Lariskan setiap pesanannya, mudahkan setiap pekerjaannya, jaga setiap karyawannya yang mengangkat terop dan merangkai bunga di bawah terik. Jadikan setiap dekor yang ia pasang untuk acara-acara kebaikan sebagai pemberat timbangan amal shalihnya.
Dan Ya Allah...
Berkahilah seluruh usaha para guru kami yang sudah mengajar siang malam tanpa menghitung gaji. Warung kecilnya, toko kelontongnya, ojeknya, kebunnya. Lariskan dagangannya.
Berkahilah usaha para alumni yang kini berjuang di perantauan. Yang jadi petani, pedagang, pelaut, guru, perawat. Luaskan rezekinya, halalkan hasilnya.
Berkahilah usaha wali murid dan simpatisan, yang menitipkan anaknya dan menyisihkan hartanya untuk acara ini. Yang sebagian datang tidak membawa nama, hanya membawa amplop dan doa. Ya Allah, jangan Kau tolak keikhlasannya.
Jadikan 18 juta ini bukan pengeluaran, tapi simpanan.
Seperti yang Kau simpan untuk Abu Bakar yang memberikan semua hartanya, untuk Utsman yang membeli surga dengan 1000 dinarnya, untuk Abdurrahman bin Auf yang hartanya tidak pernah habis karena ia terus memberi.
Ya Allah, sebagaimana Engkau memenangkan pasukan Tabuk yang sulit, menangkanlah usaha-usaha kecil kami hari ini.
Jadikan Sabda Ria Nada bukan hanya yayasan yang mengadakan Maulid, tapi yayasan yang hidup dari berkah Maulid.
_Allahumma sholli wa sallim 'ala Sayyidina Muhammad, wa barik lana fi arzaqina kulliha._
Aamiin ya Rabbal 'alamin.
________
didikasihkan untuk setiap keringat para guru, alumni, santri, wali santri dan simpatisan.#epaaen_Mely

Posting Komentar untuk "18 JUTA UNTUK NABI, MAHALKAH ?*"
Silahkan berkomentar maupun bertanya tentang Info / Kegiatan / Konsultasi gratis di Website Sabda Ria Nada, Kami akan menjawab secepatnya. Terimakasih...