BERATNYA MENJALANKAN PERINTAH ALLAH : KETIKA SILATURAHIM DISALAH ARTIKAN
![]() |
| Jamaah Khotmil Qur'an Silaturahim tanpa Batas |
Bukan karena jauhnya jarak, tapi karena beratnya prasangka.
Datang tanpa diundang, dibilang ada maunya. Datang bawa bingkisan, dibilang pencitraan cari dukungan. Datang diam-diam tanpa pemberitahuan, dibilang tidak sopan. Tidak datang, dibilang sombong dan memutus hubungan.
Inilah ujian terberat menjalankan perintah Allah yang mulia ini di zaman sekarang.
Penyakit Zaman: Silaturahim Diukur Dengan Kepentingan
Secara bahasa, silaturahim adalah menyambung tali kasih sayang. Dalam istilah syar'i, kata Ibnu Hajar Al-Asqalani, silaturahim adalah menyambung hubungan kepada kerabat, baik yang masih ada hubungan waris maupun tidak, baik mahrom maupun bukan.
Namun di masyarakat, maknanya telah melenceng jauh:
1. Silaturahim dianggap Transaksi.
Jika seorang tokoh datang ke rumah warga biasa, yang dipikirkan warga pertama kali adalah: "Mau minta dukungan Pilkades? Mau minta sumbangan pondok? Ada proyek apa?" Padahal mungkin ia hanya rindu dan ingin mendoakan.
2. Silaturahim dianggap Beban.
Banyak tuan rumah yang justru panik ketika didatangi Kyai tanpa pemberitahuan. "Waduh, tidak ada hidangan, rumah masih berantakan." Akhirnya kunjungan tulus itu malah dianggap merepotkan.
3. Silaturahim dianggap Pencitraan.
Apalagi di tahun-tahun politik, silaturahimnya Kyai, guru, dan tokoh agama seringkali langsung dituduh sebagai manuver. Niat tulus untuk menjalankan sunnah, dibalas dengan fitnah.
Padahal Rasulullah SAW mengajarkan,
لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ، وَلَكِنَّ الْوَاصِلَ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا
"Bukanlah orang yang menyambung silaturahim itu karena membalas kebaikan, akan tetapi orang yang menyambung silaturahim adalah orang yang jika diputuskan hubungan silaturahim dengannya maka dia justru menyambungnya." (HR. Bukhari no. 5991)
Kenapa Harus Tetap Dijalankan Meski Berat?
Karena perintahnya bukan dari manusia, tapi dari Allah. Keutamaannya terlalu besar untuk ditinggalkan hanya karena takut omongan manusia.
1. Dilapangkan Rezeki dan Dipanjangkan Umur
Ini janji langsung dari Rasulullah SAW:
: مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
"Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahim."[HR. Bukhari no. 5985 dan Muslim no. 255]
2. Dicintai Keluarga dan Diberkahi Harta
Ibnu Umar berkata: "Siapa yang bertakwa kepada Rabb-nya dan menyambung silaturahmi, niscaya umurnya akan diperpanjang, dan hartanya akan diperbanyak, serta keluarganya akan mencintainya."(HR. Bukhari)
3. Dijaga Oleh Allah
Allah berfirman dalam hadits Qudsi:
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: أَنَا الرَّحْمَنُ، وَأَنَا خَلَقْتُ الرَّحِمَ، وَشَقَقْتُ لَهَا اسْمًا مِنْ اسْمِي، فَمَنْ وَصَلَهَا وَصَلْتُهُ، وَمَنْ قَطَعَهَا بَتَتُّهُ
"Aku adalah Ar Rahman. Aku menciptakan rahim dan Aku mengambilnya dari nama-Ku. Siapa yang menyambungnya, niscaya Aku akan menjaga haknya. Dan siapa yang memutusnya, niscaya Aku akan memutus dirinya." (HR. Ahmad)
Adab Agar Silaturahim Tidak Disalahartikan
Untuk para Kyai, Guru, dan Tokoh, dan juga untuk kita sebagai tuan rumah, agar niat baik tidak menjadi fitnah, lakukan ini:
Bagi yang Bersilaturahim (Tamu):
1. Luruskan Niat Karena Allah. Datang bukan karena ada maunya, tapi karena perintah Allah. Jika niatnya lurus, omongan manusia tidak akan melukai.
2. Permudah, Jangan Persulit. Datanglah di waktu yang wajar (bukan waktu makan, bukan larut malam, bukan waktu shalat). Jika bisa, beri kabar singkat tanpa formalitas berlebihan: "Saya lewat dekat rumah njenengan, boleh mampir 5 menit?" Tujuannya agar tuan rumah tidak kaget.
3. Jangan Lama dan Jangan Membebani. Silaturahim Kyai yang paling indah adalah yang singkat, mendoakan, dan tidak mengharapkan jamuan mewah. Datang, tersenyum, mendoakan, pulang.
4.Tidak Membawa Rombongan Besar Tanpa Izin. Jika seorang tokoh datang dengan rombongan, warga akan langsung mengira ada kampanye. Datanglah sendiri atau dengan satu santri saja, itu lebih meresap ke hati.
Bagi yang Menerima Silaturahim (Tuan Rumah):
1. Husnudzon. Inilah kuncinya. Jika seorang guru datang tanpa diundang, anggaplah itu kemuliaan. Guru kita mau merendahkan kakinya datang ke gubuk kita. Itu rezeki.
2. Jangan Mengukur Dengan Materi. Jangan berpikir ia datang untuk diberi. Seorang Kyai yang ikhlas, kedatangannya sendiri adalah hadiah, karena ia membawa doa.
3. Sambut Dengan Gembira. Rasulullah bersabda:
مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلَّا غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَفْتَرِقَا
"Tidaklah dua orang Muslim bertemu lalu saling bersalaman, kecuali keduanya diampuni dosanya sebelum keduanya berpisah." (HR. Abu Dawud). Cukup dengan salam dan jabatan tangan, dosa sudah gugur.
Pada akhirnya, silaturahim yang dilakukan oleh seorang Kyai kepada masyarakat biasa tanpa undangan adalah akhlak kenabian. Nabi SAW dulu mendatangi rumah-rumah sahabatnya satu per satu, tanpa diundang, hanya untuk menanyakan kabar.
Jika hari ini perbuatan mulia itu dianggap salah, maka yang perlu diperbaiki bukan silaturahimnya, tapi hati kita dalamg memandangnya.
Mari kita hidupkan kembali silaturahim tanpa prasangka.Semoga Allah membimbing kita semua, Amin
________
Jum'at sore 18 September 2026
Oleh Lakenah Edda

Posting Komentar untuk "BERATNYA MENJALANKAN PERINTAH ALLAH : KETIKA SILATURAHIM DISALAH ARTIKAN"
Silahkan berkomentar maupun bertanya tentang Info / Kegiatan / Konsultasi gratis di Website Sabda Ria Nada, Kami akan menjawab secepatnya. Terimakasih...