Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

C@k KOCOR, LELAH TANPA RUPIAH

Tim Panggung saat yang lain terlelap Tidur

Sabdarianada. Id |SUMBERMALANG - Malam sudah tua. Jalan desa sepi. Hanya suara mesin Tiga Roda tua dan lampu sorot yang membelah gelap.

Di atas bak Tiga Roda itu bertumpuk besi, kabel, dan papan panggung. Sopirnya diam. Di belakangnya duduk beberapa anak muda dengan mata sembab dan baju penuh debu. 

Ini bukan malam pertama. Dan bukan yang terakhir.

Menjelang akhir kegiatan Riyadhah 9 Bujuk Safari Maulid 2026, semua orang bicara tentang penceramah, tentang sholawat, tentang meriahnya acara. Tapi hampir tidak ada yang bicara tentang mereka. 

Tim Panggung.

Mereka berangkat saat orang lain bersiap tidur. Mereka pulang saat adzan subuh sudah menggema. 

Pindah dari satu lokasi ke lokasi lain. Bongkar pasang sound. Tarik kabel sepanjang lapangan. Angkat lighting setinggi tiang. Semua dilakukan dengan tangan kosong dan tenaga.

Upahnya?  

Tidak ada. 

Anggarannya?  

Hanya beberapa batang rokok yang dibagi rata. Dan segelas kopi hitam. Kadang yang tersisa hanya ampasnya saja. 

"Kalau keringat ini diuangkan, mungkin semua orang sanggup," kata salah satu dari mereka sambil tertawa. Tapi tawanya pendek. Karena besok mereka harus berangkat lagi.

Di depan, ada sosok yang selalu paling awal datang dan paling akhir pulang. Namanya "Cak Kocor". Sapaan akrab. Tapi tanggung jawabnya tidak akrab-akrab.

Dia penanggung jawab. Dia juga tukang, kernet, montir, dan kadang jadi bapak bagi anak-anak yang mengikutinya.

Anak-anak itu... anak putus sekolah. Anak yang kata orang "tidak punya masa depan di bangku akademik". Tapi malam itu, merekalah yang memanggul masa depan acara. 

Mereka yang memastikan mikrofon tidak mati saat sholawat. Mereka yang memastikan panggung tidak roboh saat ribuan orang bersholawat.

Benar kata orang tua dulu:  

Sekolah sering telat, mikol Salon kuat

Kita berhutang budi pada kelompok muda yang dianggap "kurang" secara akademik. Karena yang gelarnya tinggi, kadang enggan menyentuh kerja kasar.

Di salah satu storynya, ada tulisan :  

"Dulu pekerjaan ini tidak ada dalam list cita-citaku. Tapi dari pekerjaan ini, semua kebutuhanku terpenuhi. Memang tidak menjadikan kaya. Tapi di sini rezekiku ada."

Itu bukan sekadar tulisan. Itu pengakuan.

Mereka tidak kaya. Tapi mereka cukup.  

Mereka tidak terkenal. Tapi mereka penting.  

Mereka tidak dapat piala. Tapi mereka dapat pahala.

Karena setiap baut yang mereka kencangkan, setiap kabel yang mereka gulung, adalah jalan untuk nama Nabi disebut.

Malam ini Roda Tiga itu menjauh. Lampunya meninggalkan dua garis biru di aspal. 

Besok, orang-orang akan duduk nyaman di kursi, menikmati panggung yang megah, mendengarkan ceramah yang menyejukkan. 

Tapi mungkin, hanya sedikit yang tahu...  

Bahwa megahnya panggung itu, berdiri di atas pundak anak-anak yang pulang membawa lelah, dan pergi membawa iman.

Terima kasih "Cak Kocor" dan Tim. Terimaksih Tim Hadrah, Tim Sound System, terimakasih Segenap Panitia dan seluruh Jamaah.

Terima kasih untuk rokok yang dibagi, kopi yang tinggal ampas, dan kerja yang tidak pernah minta pamrih.

Kalian adalah bukti. Bahwa perjuangan sejati, tidak butuh sorotan. Cukup butuh ridho.

_______

Ditulis saat rombongan Cak Kocor melintas malam jumat legi, 10 Seotember 2026 jam 1 dini hari oleh Pak Mely

Posting Komentar untuk "C@k KOCOR, LELAH TANPA RUPIAH "