Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

KHOTMIL QUR'AN MORSABE, CAHAYA YANG TIDAK PERNAH PADAM*

Jamaah Khotmil Qur'an Morsabe

Sabdarianada.Id | SUMBERMALANG - Jika kau berjalan di Tlogosari Selatan pada malam Selasa Pahing atau Selasa Legi, kau akan menemukan cahaya itu.

Tidak terang benderang seperti lampu balai desa. Cahayanya temaram, dari sebuah rumah kayu sederhana. Dari balik pintu yang terbuka, terdengar dengung yang pelan tapi menggetarkan dada: bacaan Al-Qur'an yang dibaca bersamaan.

Itulah mereka: "Jamaah Khotmil Qur'an Morsabe Tlogosari Selatan."

Malam ini, Selasa Pahing, jamaah itu digelar di rumah Pak Mor, RT 06 Tlogosari Selatan,  berlantai tikar, berdinding hijau. Di tengah-tengah lingkaran para bapak-bapak itu, tidak ada hidangan mewah. Hanya gorengan hangat yang masih mengepul, beberapa piring kecil, air minum kemasan dalam dus, dan toples kerupuk.

Tidak ada biaya khusus untuk mendatangkan mereka. Tidak ada tarif. Cukup sediakan minum dan gorengan, jamaah ini akan datang. Walaupun, kata salah satu anggota sambil tersenyum, tidak jarang kalau tuan rumah sedang jembar rezekinya, tiba-tiba di ujung tikar sudah ada nasi rawon dan amplop yang diselipkan diam-diam.

Jamaah ini sudah berumur "9 tahun lebih". Usia yang tidak muda untuk sebuah jamaah kampung. Anggotanya tidak pernah lebih dari 30 orang. Anehnya, setiap kali ada anggota baru yang datang, pasti ada anggota lama yang mrotoli luruh satu per satu. Seperti daun. Tidak pernah ramai, tapi tidak pernah mati.

Sejak berdiri, baru satu orang yang dipanggil Allah mendahului kita: Bapak H. Nor Ahmad, warga RT 05 Tlogosari. Dan sejak itulah lahir sebuah komitmen yang tak tertulis tapi dipegang teguh: Siapa pun yang masih hidup, punya kewajiban menghadiahi Al-Fatihah kepada anggota yang telah tiada, setiap kali khotmil digelar. Tidak ada yang lupa. Nama itu selalu disebut pertama sebelum juz pertama dibuka.

Adalah Pak Nasir, anggota yang mungkin paling sibuk di antara semua. Tapi sesibuk apapun, ia adalah orang pertama yang datang dan terakhir pulang. Tugasnya: menyiapkan pengeras suara. Kabel yang semrawut, mic yang kadang mendengung, speaker kecil di pojok itu — semua adalah jihadnya Pak Nasir agar bacaan Qur'an terdengar jelas sampai ke halaman.

Ada pula Pak Arfil dan Pak Roni. yang paling giat mengingatkan anggota lain ketika waktunya hataman, serta penjaga amanah. Mereka bertugas mengamankan Kas Jamaah. Jika sewaktu-waktu ada shodaqoh masuk dari tuan rumah atau hamba Allah yang menitipkan, merekalah yang mencatat dan menjaganya dengan hati-hati. Tidak banyak, tapi berkah.

Dan tahukah kemana larinya kas itu?

Tidak untuk dibagi-bagi. Dana yang terkumpul biasanya digunakan untuk mendukung kegiatan Safari Maulid di Bujuk Minih dan Bujuk Selan. Dari Qur'an untuk merayakan kelahiran pembawa Qur'an. Sungguh perputaran yang indah. Dari gorengan dan teh hangat di rumah Pak Mor, menjadi sholawat yang menggema di makam leluhur.

Tahukan anda,  yang mereka lakukan ini adalah napasnya para salafus sholeh.

"Utsman bin Affan RA" pernah mengkhatamkan Qur'an dalam satu rakaat witirnya.

"Qatadah bin Di'amah", seorang Tabi'in, mengkhatamkan dalam 7 hari, dalam Ramadhan 3 hari, dan dalam 10 hari terakhir setiap malam satu khatam.

"Imam Syafi'i", kata muridnya Rabi' bin Sulaiman, mengkhatamkan Al-Qur'an di bulan Ramadhan sebanyak 60 kali. Dua kali sehari semalam.

Mereka adalah ulama besar. Sementara jamaah Morsabe hanyalah petani, tukang, dan buruh di Tlogosari. Tapi mereka menempuh jalan yang sama: istiqomah.

Mereka mungkin tidak bisa khatam 60 kali seperti Imam Syafi'i. Tapi mereka bisa menjaga 2 kali khatam dalam sebulan, selama 9 tahun tanpa putus. Dan itu lebih dicintai Allah — amalan kecil yang istiqomah.

Seperti dalam foto itu: tikar yang sudah agak pudar, piring gorengan, dus air mineral, dan bapak-bapak dengan peci hitam yang tunduk membaca. Sederhana. Tapi dari kesederhanaan itulah Allah menjaga kampung ini tetap bercahaya.

Tidak ada panggung, tidak ada sorot kamera, hanya tikar, gorengan, dan janji untuk tidak melupakan sahabat yang telah berpulang.

Semoga Allah menjaga jamaah kecil ini. Jamaah yang mungkin tidak terkenal di bumi, tapi namanya disebut-sebut di langit setiap malam Selasa Pahing dan Selasa Legi.

Amin.

____________

Dibuat untuk dokumentasi Giat Khotmil qur'an Morsabe #eppaen_Rotib

Posting Komentar untuk "KHOTMIL QUR'AN MORSABE, CAHAYA YANG TIDAK PERNAH PADAM*"