Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

KISAH SETIA SANG INSPEKTUR UPACARA

Ustad. Fiqi Alawy dalam posisi sempurna

Sabdarianada.Id | SUMBERMALANG - Hari itu Senin 17 Agustus 2026 di lapangan Pondok Pesantren Sabda Ria Nada, Sumbermalang, seorang pria berdiri tegap dengan setelan jas hitam, peci hitam, dan dasi rapi. Tangan kanannya hormat sempurna ke arah Sang Merah Putih yang berkibar. Wajahnya tegar. Langkahnya mantap.

Dialah  Ustad Fiqi Alawy Sang Inspektur Upacara

Mungkin sudah banyak yang lupa, di balik ketegapan hormatnya itu, ada hati yang pernah patah sedalam-dalamnya. Ada pelukan yang sampai hari ini masih kosong. Ada janji setia yang ia pegang sendirian.

Ustad Fiqi bukan orang Sumbermalang asli. Ia lahir di Widoropayung, Besuki. Datang ke Sumbermalang dalam rangka mengabdi, bukan untuk mencari jodoh. Ia adalah guru pengabdian utusan dari Pondok Pesantren Al-Masduqiyah, Kraksaan, Probolinggo

Tapi Allah punya rencana lain. Di pondok kecil itulah, hatinya tersangkut pada seorang santriwati yang akhlaknya begitu teduh, bernama Farida Muttasyifa. Cinta yang tumbuh karena Allah, di tempat yang Allah ridhoi. Akhirnya mereka menikah.

Rumah tangga mereka tidak mewah, tapi harmonisnya bikin iri. Kemana-mana selalu berdua.  Santri-santri hafal betul, kalau Ustad Fiqi ada, pasti di sebelahnya ada Bu Farida.

Sampai pada suatu hari, Allah menguji cinta mereka dengan ujian yang paling berat.

Bu Farida dipanggil pulang oleh Allah. Terlebih dahulu. Meninggalkan Ustad Fiqi dan seorang bayi kecil yang saat itu baru berusia sekitar 2 tahun, yang bahkan belum mengerti apa arti kata "kehilangan".

Bayangkan,......

Seorang laki-laki yang kemarin kemana-mana ditemani istri, tiba-tiba harus belajar menjadi ibu dalam semalam. Harus belajar menggendong.  Harus belajar menidurkan anak sambil menghafal materi ngaji untuk esok pagi.

Dan sejak hari itu sampai hari ini, ia memilih untuk tidak mengganti posisi itu dengan orang lain. Ia memilih membesarkan anaknya sendiri. Bahkan sering terlihat tidur di asrama, nginep bersama santri lain, bukan karena malas pulang ke rumah, tapi karena ia ingin anaknya merasa punya banyak saudara.

Itulah kenapa hormatnya pada 17 Agustus kemarin terlihat begitu dalam. Karena ia bukan hanya hormat pada bendera. Ia hormat pada perjuangan, pada kesetiaan, dan pada janji yang pernah ia ucapkan di depan istrinya.

Jika Anak Dibesarkan Tanpa Sosok Ibu

Dalam ilmu psikologi, kondisi ini disebut motherless parenting

Kekurangannya yang harus kita pahami bersama:

1. Krisis Rasa Aman. Psikolog Gracia Ivonika, http://M.Psi., menjelaskan ikatan ibu dan anak sudah ada sejak dalam kandungan. Kehilangan ibu di usia 2 tahun adalah fase paling rawan. Anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang mudah cemas, takut ditinggalkan, atau haus perhatian berlebih.

2. Hambatan Mengelola Emosi. Ibu adalah madrasah pertama untuk kelembutan. Tanpa kehadiran fisik ibu, anak berisiko kesulitan mengekspresikan rasa sedih dan rindunya, yang jika dipendam bisa menjadi ledakan emosi saat remaja.

3. Beban Ganda Pada Ayah. Seorang single father seperti Ustad Fiqi harus menjadi pencari nafkah sekaligus pengasuh. Lelah fisik pasti. Dan yang paling berat adalah lelah batin, karena harus menjawab pertanyaan anak: "Ibu dimana, Abi?"

Tapi, ada kelebihannya yang luar biasa dan ini yang terjadi pada anak Ustad Fiqi:

1. Tumbuh Menjadi Anak yang Mandiri dan Tangguh.  Anak yang dibesarkan ayah single yang sholeh akan melihat langsung arti perjuangan. Ia tidak manja, ia mandiri, ia paham arti kerja keras.

2. Memiliki Banyak "Ibu" di Pesantren.  Di Sabda Ria Nada, anak itu tidak pernah kekurangan kasih sayang. Setiap ustadzah adalah ibunya, setiap santriwati senior adalah kakaknya. Kasih sayang itu tidak hilang, hanya saja Allah titipkan lewat banyak tangan.

3. Kedekatan Ruhani Ayah-Anak yang Tak Tergantikan. Karena hanya berdua, ikatan batinnya sangat kuat. Doa ayah untuk anaknya di sepertiga malam, tidak ada hijabnya.

Dan Ini yang paling penting untuk kita catat.

Kita sangat menghormati dan mendoakan pilihan setia Ustad Fiqi. Pilihan itu mulia, pilihan itu adalah bentuk cinta tertinggi.

Namun, setia dalam Islam tidak wajib diartikan harus hidup sendiri selamanya.

Rasulullah SAW adalah manusia paling setia pada Sayyidah Khadijah RA. Cinta beliau pada Khadijah tidak pernah hilang bahkan setelah Khadijah wafat. Namun Rasulullah tetap menikah lagi. Bukan karena melupakan, tapi karena Islam mengajarkan bahwa pernikahan adalah untuk menjaga, melindungi, dan menyempurnakan.

Setia itu bukan tentang berapa lama kita sendiri. Setia itu tentang bagaimana kita menjaga amanah, menjaga nama baik almarhumah, dan memastikan anak tetap mendapatkan kasih sayang yang utuh.

Jika suatu hari nanti Ustad Fiqi memutuskan untuk membuka hati lagi, itu bukan berarti ia tidak setia. Itu justru adalah bentuk kesetiaan yang lain: kesetiaan untuk memberikan sosok ibu terbaik bagi anaknya, dan kesetiaan untuk menjalankan sunnah Rasulullah.

Apapun jalannya, kita hanya bisa mendoakan.

Semoga lelah Ustad Fiqi menjadi lillah. Semoga setiap suap nasi, setiap gendongan, dan setiap malam terjaganya menjadi saksi di hadapan Allah bahwa ia adalah ayah sekaligus ibu terbaik untuk anaknya.

Al-Fatihah untuk Almarhumah Ibu Farida Muttasyifa.

Ditulis di Sumbermalang, untuk seorang guru yang mengajarkan arti setia tanpa banyak bicara.

-------------

#eppaen Anas

Posting Komentar untuk "KISAH SETIA SANG INSPEKTUR UPACARA"