MATAHARI DAN REMBULAN DI PANGKUAN ABU BAKAR
![]() |
| Ilustrasi sumber AI |
Sabdarianada.Id | Angin padang pasir Syam bertiup pelan malam itu. Abu Bakar bin Abi Quhafah, pedagang Quraisy yang jujur dan dipercaya, terlelap di tendanya. Ia baru saja menyelesaikan urusan dagang di negeri Syam.
Tiba-tiba...
Langit terbelah. Matahari dan bulan turun perlahan, bercahaya lembut, lalu mendarat tepat di pangkuannya.
Dengan gemetar ia mengangkat kedua tangannya, menggenggam cahaya itu, lalu mendekapnya ke dadanya. Ia selimuti dengan selendangnya, seakan takut cahaya itu lepas lagi.
Ketikan terbangun jantung Abu Bakar berdebar keras. Keringat dingin membasahi dahinya.
"Mimpi apa ini?" gumamnya.
Pagi harinya, tanpa menunda, Abu Bakar mencari seorang Rahib Nasrani yang terkenal alim di Syam.
"Ya Rahib," kata Abu Bakar sopan, "aku bermimpi matahari dan bulan berada di pangkuanku."
Sang Rahib menatap tajam. "Dari mana asalmu?"
"Dari Makkah."
"Dari kabilah mana?"
"Dari Bani Tamiim."
"Untuk apa engkau ke sini?"
"Berdagang," jawab Abu Bakar.
Rahib itu menghela napas panjang. Matanya berkaca-kaca.
"Ketahuilah wahai saudaraku... Akan lahir di zamanmu seorang laki-laki dari Bani Hasyim. Namanya Muhammad Al-Amin. Dialah Nabi penutup zaman. Seandainya bukan karena dia, Allah tidak akan menciptakan langit dan bumi."
Dada Abu Bakar bergetar. Nama itu... sudah sering ia dengar. Muhammad Al-Amin. Sahabatnya di Makkah. Laki-laki paling jujur yang pernah ia kenal.
Tanpa pikir panjang, dagangan ditinggal. Abu Bakar berpacu pulang ke Makkah.
Sesampainya di sana, ia tidak bisa lepas dari satu orang: Muhammad.
Setiap hari ia datang. Duduk. Menatap. Mendengarkan.
Sehari saja tidak bertemu, rasanya sesak.
Hingga suatu hari, Rasulullah ﷺ tersenyum dan bertanya lembut:
"يَا أَبَا بَكْرٍ كُلَّ يَوْمٍ تَجِيْءُ إِلَيَّ وَتَجْلِسُ مَعِيْ لِمَ لَا تُسْلِمُ"
"Wahai Abu Bakar... setiap hari engkau datang dan duduk bersamaku. Mengapa engkau belum masuk Islam?".
Abu Bakar menunduk. Dengan suara bergetar ia menjawab:
"لَوْ كُنْتَ نَبِيًّا فَلَا بُدَّ لَكَ مِنَ الْمُعْجِزَةِ"
"Jika engkau benar seorang Nabi, maka tunjukkan mukjizat kepadaku.".
Nabi ﷺ hanya tersenyum. Lalu bersabda:
"أَمَا تَكْفِيْكَ الْمُعْجِزَةُ الَّتِيْ رَأَيْتَ فِي الشَّامِ وَعَبَّرَهَا الرَّاهِبُ وَأَخْبَرَكَ عَنْ إِسْلَامِهِ"
"Tidakkah cukup bagimu mukjizat mimpi di Syam itu? Yang telah ditakwilkan Rahib dan mengabarkan tentang keislamanmu?".
Seketika tubuh Abu Bakar lemas. Air matanya jatuh.
Semua pas. Semua sama.
Ia bangkit, lalu dengan suara paling mantap dalam hidupnya ia berkata: "أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّكَ رَسُوْلُ اللهِ
"Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah, dan engkau adalah utusan Allah!".
Sejak hari itu, Abu Bakar Ash-Shiddiq seperti terlahir kembali.
Laki-laki yang hatinya lebih dulu beriman, sebelum lisannya mengucap syahadat.
Hikmah untuk Kita
1. Hidayah itu lembut : Datang lewat mimpi, lewat ucapan seorang Rahib, lewat cinta.
2. Cinta kepada Nabi adalah jalan iman : Abu Bakar rindu dulu, baru kemudian bersyahadat.
3. Kebenaran tidak butuh banyak bukti : Cukup satu isyarat, hati orang shiddiq langsung yakin.
Semoga kita, santri Sabda Ria Nada yang setiap Senin-Kamis mengaji Al-Mawa'idul Ushfuriyah, juga diberi hati seperti Abu Bakar. Hati yang cepat menerima kebenaran, Amin.
------------
Kunjungi juga
https://youtu.be/ZZ0RjEga69c?si=YKS2zuGNsC6pEFqY
Disarikan dari Kitab Almawaidul Ushfuriyah karya Syeh Mohammad bin Abu Bakar al Ushfuri Syarah Hadis ke 6 oleh Pak Rotib

Posting Komentar untuk "MATAHARI DAN REMBULAN DI PANGKUAN ABU BAKAR"
Silahkan berkomentar maupun bertanya tentang Info / Kegiatan / Konsultasi gratis di Website Sabda Ria Nada, Kami akan menjawab secepatnya. Terimakasih...