Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

MENDIDIK DENGAN CINTA, BELAJAR DARI KISAH ABDUL MUTHALIB*

Pemenang Lomba Bahagia Maulid 2026

Sabdarianada.Id| Sumbermalang - Ada sebuah kisah haru dari kakek Baginda Nabi Muhammad SAW, Abdul Muthalib.

Dahulu beliau pernah bernadzar di depan Ka'bah, "Jika aku dikaruniai sepuluh anak laki-laki, maka satu akan aku sembelih sebagai syukur."

Allah mengabulkan. Lahirlah sepuluh putra yang gagah: Al-Harits, Az-Zubair, Abu Thalib, Abdullah, Al-Abbas, Abu Lahab, Hamzah, Hajl, Al-Muqawwim, dan Dhirar.

Ketika tiba waktunya nadzar itu ditunaikan, diundilah nama-nama itu. Qadarullah, yang keluar adalah Abdullah, putra bungsu yang paling beliau cintai, ayah dari Rasulullah SAW.

Karena kasih sayang masyarakat Quraisy kepada Abdullah, penyembelihan itu akhirnya diganti dengan 100 ekor unta sebagai tebusan.

Abdullah selamat. Namun takdir berkata lain. Ia tetap wafat di usia muda, dalam perjalanan dagang, bahkan sebelum sempat melihat putranya, Muhammad, lahir ke dunia.

Kisah ini menyimpan pelajaran besar bagi kita para orang tua hari ini.

Betapa sering kita sebagai orang tua, karena rasa cinta dan ingin yang terbaik, tanpa sadar menitipkan beban dan harapan besar di pundak anak.

Kita ingin anak kita menjadi penghafal Qur'an, menjadi anak pondok yang betah, menjadi juara. Niatnya mulia, karena Allah.

Namun kadang, kita lupa mengukur kesiapan hati anak itu sendiri.

Baru-baru ini kami menemui kejadian yang membuat kami merenung. Ada seorang anak yang awalnya tidak kerasan belajar di pondok. Menangis dan ingin pulang. Orang tuanya pun bingung dan sedih.

Setelah diajak bicara pelan-pelan, didoakan bersama, dan didekati dengan cara yang lebih lembut, Alhamdulillah kini anak tersebut mulai kerasan dan semangat kembali.

Dari sini kami belajar:

"Pondok adalah tempat yang sangat mulia. Tapi setiap anak memiliki waktu kesiapannya sendiri."

Ada yang siap di usia 12 tahun, ada yang siap di usia 15 tahun. Ada yang tumbuh dengan belajar di pondok, ada yang tumbuh dengan belajar di madrasah sambil tetap didampingi orang tua di rumah. Semua jalan itu baik, selama diniatkan karena Allah.

Tugas kita sebagai orang tua bukanlah memaksakan satu jalan, tapi:

1. Mendoakan dengan tulus.

Seperti doa Abdul Muthalib, tapi sempurnakan dengan doa agar anak diberi jalan terbaik menurut Allah, bukan menurut gengsi kita.

2. Mengajak musyawarah.

Tanyakan pada anak, "Nak, kamu nyamannya belajar bagaimana? Apa yang membuat kamu tidak betah?". Dengarkan keluhannya. Anak yang didengarkan akan lebih kuat hatinya.

3. Menyiapkan mental sebelum fisik.

Ajarkan kemandirian di rumah dulu. Ajarkan adab, ajarkan cara mengurus diri sendiri, sebelum kita titipkan ia jauh dari rumah.

Semoga Allah menjaga semua anak-anak kita di Tlogosari dan di mana pun berada. Semoga mereka tumbuh bukan karena paksaan kita, tapi karena cinta mereka kepada ilmu dan kepada Allah.

Dan semoga kita menjadi orang tua yang dicintai anak, bukan ditakuti anak. Amin

________

*Kontributor #eppaen_ Anas

Posting Komentar untuk "MENDIDIK DENGAN CINTA, BELAJAR DARI KISAH ABDUL MUTHALIB*"