SARWA BHEREK CORA, 7 TAHUN MENJAGA DZIKIR, SILATURAHIM DAN EKONOMI WARGA*
![]() |
| Suasana Sarwa di rumah Pak Fika Bherek Sabe |
Sabdarianada.Id | SUMBERMALANG - Malam masih lengang ketika lampu-lampu rumah warga Bherek Sabe mulai redup. Namun di rumah Pak Fika, justru suasana menghangat. Tikar terbentang, kopi dan kudapan terhidang, puluhan bapak-bapak duduk melingkar.
Itulah pemandangan rutin "Jamaah Sarwa" malam Sabtu Pahing dan Sabtu Legi.
Sarwa Bherek Cora sudah berjalan lebih dari 7 tahun. Pertama kali dibuka sekitar tahun 2019 di rumah H. Muslim Bherek Cora. Jamaahnya mayoritas adalah warga bherek cora, ada sebagian dari Bherek Sabe dan Morsabe. Belakangan warga Baderan juga ada beberapa orang ikut bergabung.
Kata "Sarwa" diduga berasal dari kata Syura dalam Al-Qur'an: وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ "dan urusan mereka diputuskan dengan musyawarah di antara mereka" (QS. Asy-Syura: 38).
Dari nama itulah ruh kegiatan ini terbentuk. Sarwa bukan sekadar kumpul-kumpul.
Pemilihan malam Sabtu juga memiliki latar belakang sejarah dan spiritual yang dalam. Ini adalah bentuk perlawanan terhadap kelalaian.
Dalam Al-Qur'an Allah menceritakan kisah Ashabus Sabt umat Nabi Musa yang tinggal di tepi laut. Mereka diuji dengan larangan mencari ikan di hari Sabtu.
Allah berfirman:
_وَسْـَٔلْهُمْ عَنِ ٱلْقَرْيَةِ ٱلَّتِى كَانَتْ حَاضِرَةَ ٱلْبَحْرِ إِذْ يَعْدُونَ فِى ٱلسَّبْتِ... فَقُلْنَا لَهُمْ كُونُوا۟ قِرَدَةً خَٰسِـِٔينَ
"Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu... Maka Kami katakan kepada mereka: "Jadilah kamu kera yang hina" (QS. Al-A'raf: 163-166).
Karena melanggar, menipu, dan mengutamakan dunia di hari Sabtu, mereka dikutuk oleh Allah menjadi kera yang hina.
Dari kisah itulah pendiri Sarwa Bherek Cora mengambil ibrah.
Jika malam Sabtu dulu menjadi sebab kelalaian dan azab, maka malam Sabtu sekarang kita jadikan sebab ketaatan dan keberkahan.
Karena itu setiap Sabtu Pahing dan Sabtu Legi, warga sengaja berkumpul. Mengganti kelalaian dengan dzikir. Mengganti tipu daya dengan musyawarah. Mengganti murka dengan sholawat. Harapannya Allah menjaga warga kampung dari kelalaian.
3 Pilar Giat Sarwa Bherek Cora
1. Wadah Dzikir dan Sholawat
Sarwa dibuka dengan dzikir bersama dan sholawat. Di tengah kesibukan dunia, malam Sarwa menjadi jeda untuk menghidupkan hati, menguatkan iman, dan mendoakan kampung agar diberi keberkahan.
2. Ajang Silaturahim dan Musyawarah
Meja bundar di Sarwa juga jadi meja musyawarah. Isu-isu penting lingkungan dibahas bersama. Mulai dari kerja bakti, kegiatan keagamaan, sampai membantu warga yang kesusahan.
Dengan bermusyawarah, keputusan tidak berat sebelah. Semua didengar, semua punya ruang. Inilah bentuk nyata syura yang diajarkan Al-Qur'an.
3. Arisan untuk Kekuatan Ekonomi
Di sela dzikir dan diskusi, ada agenda yang selalu dinanti: arisan.
Setiap pertemuan, uang yang terkumpul mencapai 5-6 juta rupiah.
Kemarin malam di rumah Pak Fika Bherek Sabe misalnya, uang terkumpul Rp 5.900.000.
Manfaat Sarwa: Untuk Hati, Sosial, dan Ekonomi
Secara Spiritual:
Berkumpul untuk mengingat Allah menurunkan ketenangan dan rahmat. Nabi ﷺ bersabda: “Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah... melainkan akan turun kepada mereka ketenangan, diliputi rahmat...”( HR. Muslim).
Dengan mengisi malam Sabtu dengan dzikir, kita berharap menjadi umat yang bersyukur, bukan seperti Ashabus Sabt yang dilaknat.
Secara Sosial:
Berkumpul rutin membuat warga saling kenal, saling tahu kabar, dan saling jaga. Silaturahim yang terjalin memutus sekat. Yang muda hormat, yang tua mengayomi. Gotong royong jadi hidup lagi karena sering bermusyawarah.
Secara Ekonomi:
Arisan 5-6 juta per pertemuan adalah bentuk "bank warga". Dana itu sangat membantu saat ada kebutuhan mendadak: renovasi rumah, biaya sekolah, modal usaha kecil, atau hajatan. Diputar bergiliran, semua anggota merasakan manfaatnya tanpa harus ke rentenir.
Tujuh tahun bukan waktu sebentar. Sarwa Bherek Cora membuktikan bahwa kekuatan sebuah desa bukan hanya di aspal dan bangunan, tapi di seberapa sering warganya duduk bersama, bermusyawarah, dan saling menguatkan karena Allah.
Alhamdulillah, buah dari semangat gotong royong dan kepedulian Sarwa Bherek Cora kini mulai kita petik bersama. Cahaya manfaatnya telah nyata menerangi kehidupan warga. Beberapa titik krusial jalan desa kini terang oleh lampu penerangan, sehingga aktivitas malam hari menjadi lebih aman dan nyaman.
Kepedulian sosial juga diwujudkan melalui penyediaan peralatan kifayah: genset, bak mandi, terpal, hingga keranda jenazah, agar setiap duka keluarga dapat diringankan dengan pelayanan yang layak.
Sarana spiritual kita pun hidup kembali dengan renovasi Astah Bhujuk Bheret, dan kini semarak dengan pengajian rutin setiap Maulid di Astah Bhujuk Bheret dan Bhujuk Mandeh, sebagai pengikat ukhuwah dan penyejuk hati.
Bahkan saudara-saudara kita yang kurang mampu pun tersentuh dengan bantuan beberapa unit RTLH, sehingga rumah yang dulu kurang layak kini menjadi tempat berteduh yang nyaman dan bermartabat.
Semua ini adalah bukti bahwa kebersamaan akan selalu melahirkan keberkahan. Niat baik yang dirawat bersama akan tumbuh menjadi pohon manfaat yang menaungi banyak orang.
Semoga Sarwa Bherek Cora terus istiqomah. Menjadi cahaya di malam Sabtu Pahing dan Sabtu Legi, untuk Bherek Cora, Bherek Sabe, dan seluruh Tlogosari dan Baderan Amin
Aamiin ya Rab
__________
Kontributor eppaen Rotib

Posting Komentar untuk "SARWA BHEREK CORA, 7 TAHUN MENJAGA DZIKIR, SILATURAHIM DAN EKONOMI WARGA*"
Silahkan berkomentar maupun bertanya tentang Info / Kegiatan / Konsultasi gratis di Website Sabda Ria Nada, Kami akan menjawab secepatnya. Terimakasih...