SENIN LEGI, KETIKA HATI DAN AIR MATA BERSAKSI*
![]() |
| Pak Bas, bincang Mesra usai Upacara |
Sabdarianada.Id | SUMBERMALANG - Pagi ini, 21 September 2026, langit Tlogosari masih malu-malu. Embun masih menggantung di ujung daun pisang pagar madrasah. Namun di halaman Sabda Ria Nada, ratusan pasang sepatu sudah berbaris rapi.
Ini adalah salah satu tradisi luhur yang kami jaga mati-matian. Upacara Bendera. Bukan hanya santri dan guru, tapi juga Ibu-Ibu Walida — wali murid Sabda Ria Nada yang menggendong dan menuntun putra-putrinya, ikut berdiri di bawah terik yang belum jadi.
Hari ini bukan Senin biasa. Ini Senin Legi. Senin yang kami tunggu setiap bulan, di mana pembina upacara bukan dari kami, tapi dari luar pagar pesantren. Agar anak-anak tahu, dunia tidak hanya selebar papan tulis.
Alhamdulillah hari ini berkesempatan Hadir Bapak AIPTU Mohammad Basuki, Ps. Kasium Polsek Sumbermalang. Polisi dengan senyum paling ramah di Sumbermalang. Anak-anak memanggilnya Pak Bas.
Pak Bas tidak membawa tongkat komando. Ia hanya membawa satu kata yang ia ulang-ulang dengan suara beratnya yang tegas: "Disiplin".
"Nak," katanya, "Kunci sukses itu bukan pintar. Tapi disiplin waktu. Kalau sudah bisa mengendalikan diri dari hal terlarang, baik di sekolah maupun di luar, kalian sudah separuh jadi orang sukses."
Ratusan kepala menunduk. Mencatat dalam hati.
Lalu tibalah saat yang ditunggu. Pak Bas dipersilakan menyerahkan penghargaan.
Yang pertama dipanggil adalah Peserta Paskibraka HUT RI ke-81. Langkah mereka masih tegap seperti saat mengibarkan Merah Putih sebulan lalu. Untuk mereka, madrasah tidak memberi piala besar. Hanya sebuah buku tabungan. Masing-masing seratus ribu rupiah.
"Terus rajin menabung ya," bisik Pak Bas sambil menyalami mereka satu persatu. Seratus ribu itu bukan soal nominal. Itu soal pelajaran menahan diri. Itulah disiplin.
Yang kedua adalah kebanggaan kami semua: "3 Regu Gerak Jalan."
Mereka adalah para juara lomba gerak jalan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Desa Widoropayung, Besuki, 21 Agustus lalu. Kami mengirim 3 regu, dan ketiga-tinganya pulang membawa juara.
Tepuk tangan pecah, Ibu-ibu Walida yang tadi menggendong anaknya, kini bertepuk tangan paling kencang.
Upacara selesai, giliran tradisi yang paling kami cintai dimulai.
"Sambung RASA, Sambung CINTA".
Semua guru, semua undangan, termasuk Pak Bas, berbaris memanjang di depan siswa. Lalu, satu persatu, ratusan santri berjalan. Bersalaman. Mencium tangan.
![]() |
| Ekspresinya mencurigakan, entah apa? |
Diiringi sholawat pelan dari speaker tua madrasah.
Di sanalah semuanya tumpah. Tidak ada lagi guru dan murid. Yang ada hanya orang tua dan anaknya. Seorang ustadzah tiba-tiba memeluk santrinya yang kelas 2 MI begitu lama. Seorang santri MA menunduk lama di depan gurunya sambil menitikkan air mata.
Pak Bas yang biasanya tegas, hari itu terlihat mengusap matanya.
Kami percaya di Sabda Ria Nada "Apa yang ada di dalam kepala dan hati, akan tampak di luarnya".
Dan pagi ini, di halaman kecil ini, yang tampak adalah "CINTA". Semoga Allah membimbing kita semua, Amin.
_____
Kontributor #eppaen_Anas


Posting Komentar untuk "SENIN LEGI, KETIKA HATI DAN AIR MATA BERSAKSI*"
Silahkan berkomentar maupun bertanya tentang Info / Kegiatan / Konsultasi gratis di Website Sabda Ria Nada, Kami akan menjawab secepatnya. Terimakasih...