Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

SHOLAT JUMA'AT, IMAM LUPA TIDAK BACA AL FATIHAH*

Sumber gambar AI

Sabdarianada.Id | Sumbermalang - Masjid Kampung Kopi di ujung Dusun Rawa siang itu penuh sesak. Kipas angin tua berdecit pelan, beradu dengan  batuk Jamaah penderita Flu. Pak Haji Salim, imam sepuh yang biasanya jadi imam, sedang sakit. Maka maju lah Pak Darto,  anak muda yang baru pulang mondok, suaranya merdu, hafalannya banyak. Khutbahnya mengalir. Semua khusyuk.

Masuk rakaat pertama, semua lancar. Surat Al-Fatihah dibaca jelas, lalu surat pendek.

Masuk rakaat kedua, Entah karena gugup, entah karena kecapekan habis gotong royong pagi, setelah takbir intiqal, Pak Darto langsung membaca surat pendek. Surat Al-Ikhlas. Lupa. Ia lupa membaca Al-Fatihah.

Di shaf kedua, Pak Kholil yang sudah jadi makmum masjid itu 30 tahun langsung menyadari. Refleks, ia mengucap pelan, "Subhanallah." Satu shaf ikut, "Subhanallah..."

Pak Darto terdiam sepersekian detik. Tapi karena gugup dan suara kipas yang berisik, ia mengira makmum menegur panjang bacaan suratnya. Ia pun lanjut ruku'. Sujud. Sampai salam.

Selesai salam, masjid hening. Tidak ada yang langsung berdiri. Saling pandang.

Anak muda bernama Rafi yang duduk di belakang berbisik ke ayahnya, "Yah, tadi rakaat kedua imam tidak baca Fatihah kan?"

Ayahnya mengangguk pelan.

Sore harinya, di warung kopi depan masjid, mereka tidak ghibah, mereka bertanya.

Datanglah Pak Kyai sepuh, Kyai Manshur, guru ngaji mereka semua.

"Gini, Man," kata Kyai Manshur sambil menyeruput kopi hitam. "Al-Fatihah ini bukan bacaan sunah. Di madzhab kita, Syafi'i, Maliki, dan Hambali sepakat, Fatihah itu rukun. Rukun itu tiang. Kalau tiangnya hilang satu, rumahnya rubuh. Nabi dawuh, 

لا صلاة لمن لم يقرء بفاتحة الكتاب

 "Tidak sah shalat tanpa Fatihah."

"Jadi shalat imam tadi gimana, Yai?" tanya Pak Darto yang kebetulan ikut duduk, wajahnya masih merah menahan ragu.

Kyai Manshur menepuk pundaknya.

"Kamu tidak berdosa, To. Lupa itu dimaafkan Allah. Tapi shalatnya belum sempurna. Kalau rukun tertinggal, harusnya kalau ingat sebelum salam, balik lagi berdiri, baca Fatihah dulu. Nah karena sudah terlanjur salam dan sudah lama, maka shalat Jumat tadi dianggap belum sah satu rakaatnya. Otomatis Jumatnya belum sah. Wajib diulang."

Pak Kholil bertanya, "Lah kalau kami makmum, Yai? Kami kan sudah mengingatkan?"

"Nah ini adab berjamaah," jawab Kyai Manshur. "Kalau makmum sudah yakin imam meninggalkan rukun dan sudah diingatkan tapi imam tetap lanjut, makmum itu punya jalan. Namanya mufaraqah. Niat pisah dari imam di dalam hati, lalu ia sempurnakan sendiri Fatihah-nya dan lanjutkan shalatnya sampai salam. Itu yang paling selamat."

"Kalau kami tetap ngikut sampai salam karena sungkan, Yai?"

Kyai Manshur tersenyum bijak, "Kalau tetap ngikut padahal sudah yakin imamnya tidak sah, ya ikut tidak sah juga. Karena kita tahu tiangnya hilang. Maka nanti di rumah, ganti dengan shalat Dzuhur 4 rakaat saja. Allah Maha Tahu niat kita mau menjaga hati imam."

Pak Darto menunduk. Bukan karena dimarahi, tapi karena terharu.

"Kalau dalam madzhab Hanafi, memang lebih ringan," lanjut Kyai Manshur, "Fatihah dihukumi wajib, bukan rukun. Jadi cukup ditutup sujud sahwi. Tapi kita di sini pakai Syafi'i, jadi kita pakai yang lebih hati-hati. Lebih baik kita anggap belum sah dan kita ulang dengan Dzuhur, daripada kita anggap sah padahal di sisi Allah belum."

Malam itu, tidak ada yang menyalahkan Pak Darto. Di grup WA masjid, Pak Kholil hanya menulis:

"Alhamdulillah Jumat kemarin lancar. Sebagai kehati-hatian dan pembelajaran kita bersama, monggo yang tadi ikut shalat, kita sempurnakan lagi dengan shalat Dzuhur 4 rakaat di rumah masing-masing. Tidak ada yang salah, kita semua belajar. Imam kita sudah berani maju, itu pahala besar."

Pak Darto membalas dengan emoji senyum nangis.

Dan Jumat berikutnya, sebelum maju, Pak Darto berbisik ke Pak Kholil, "Pak, kalau saya salah lagi, tolong tasbihnya yang keras ya."

Mereka tertawa. Masjid itu kembali damai. Tidak ada yang merasa ditegur, semua merasa diajari. Senoga Allah membimbing dan melindungi kita semua, Amin.

_________

*kontributor Eppaen_Mely

Posting Komentar untuk "SHOLAT JUMA'AT, IMAM LUPA TIDAK BACA AL FATIHAH*"