TERAHIR, DI BAWAH LANGIT BHUJUK SANTEN*
![]() |
| Malam puncak Riyadhah 9 Bhujuk Safari Maulid 2026 malam Sabtu 11 September 2026 |
Sabdarianada.Id | SUMBERMALANG - Angin September menampar pelan daun-daun sengon di pemakaman Bujuk Santen. Lampu sorot kuning dari tiang bambu menembus kabut tipis, menyorot lautan kepala yang duduk berdesakan di atas tanah.
Ini malam ke-9. Malam terakhir Riyadhah 9 Bhujuk Safari Maulid 2026. Dan entah kenapa, malam ini rasanya paling berat untuk pulang.
Tim sound system masih sibuk cek sound. "Tes... 1, 2...". Suaranya memantul ke makam-makam tua, lalu kembali lagi seperti doa yang dipantulkan langit.
Tampak hadir Ahmad Muhlisin selaku Direktur Argopuro Walida sekaligus Pembina Yayasan Sabda Ria Nada, KH. Ahmad Fauzi Ketua MWC NU Kecamatan Sumbermalang, dan Kanit Surya Darmadji dari Polsek Sumbermalang yang turut mengamankan jalannya acara.
Pak Kanit, aman?" tanya Ahmad Muhlisin pelan.
"Aman Pak. Yang tidak aman itu hati saya kalau acara begini sudah selesai," jawabnya sambil tertawa kecil.
Gus Ali Masduqi dari Pondok Pesantren Badridduja Kraksaan tampil memukau. Muda, tegas, dan berwibawa, gaya ceramahnya membuat ratusan jamaah tak sanggup berkedip. Dalam tausiyahnya beliau mengajak meneladani cinta para Sahabat kepada Nabi. “Seperti Abu Bakar yang rela menahan lapar karena ingin selalu bersama Nabi. Seperti Bilal bin Rabah yang tak kuasa mengumandangkan adzan karena teringat Nabi,” ujar Gus Ali.
Penceramah kedua, KH. Munawwir Assyadily yang akrab disapa Kiyai Ramok Sugoro dari Situbondo, menghidupkan suasana dengan lantunan tembang-tembang nasehat. Kemampuannya membawakan tembang-tembang dakwah mendapat aplaus panjang dari jamaah. “Meneladani Nabi harus dimulai dari rumah kita masing-masing. Perbaiki hubungan suami-istri, dengan tetangga, dan dengan sesama manusia,” pesan beliau.
Suara itu parau. Setiap baitnya seperti mengetuk pintu rumah satu-satu.
"Benahi dulu rumahmu. Sayangi istrimu. Muliakan tetanggamu. Baru ngaku umat Nabi."
"Siapa yang cinta Nabi tepuk tangan, pluk pluk pluk 2×
Siapa yang cinta Nabi mari kita lakukan, siapa yang cinta Nabi tepuk tangan, pluk pluk pluk"
Jamaah ikut melantunkan. Dari anak muda sampai kakek-kakek. Malam itu, makam Bujuk Santen tidak lagi menyeramkan. Ia jadi ruang tamu terbesar di Sumbermalang.
Beruntung Panitia menyiapkan dua layar proyektor raksasa di kanan-kiri panggung sehingga jamaah yang paling buntut sekalipun bisa menyaksikan perhelatan akbar ini dengan jelas.
Siapa yang Paling Berjasa?
Pertanyaan itu mengemuka di akhir acara: Tim Panggung, Hadrah, Sound System, Panitia, atau Jamaah?
Jika ditelisik, tidak ada satu pihak pun yang bisa berdiri sendiri.
Tim Panggung dan Sound System, berjasa menghadirkan kekhusyukan. Tanpa tata suara yang jernih, lantunan sholawat dan nasehat Kiyai Ramok tidak akan sampai ke barisan paling belakang.
Tim Hadrah, berjasa menghidupkan malam. Irama rebana merekalah yang mengantar hati jamaah larut dalam cinta kepada Nabi.
Panitia Safari Maulid berjasa dari nol. Mulai urusan konsumsi, keamanan, sampai berkoordinasi dengan Polsek dan MWC NU. Kerja senyap mereka dimulai jauh hari sebelum acara.
Jamaah adalah ruhnya. Tanpa kehadiran jamaah, panggung semegah apapun akan sepi. Semangat mereka rela begadang 9 malam berturut-turut yang membuat Safari ini hidup.
Karena itu jawabannya: semua berjasa. Safari Maulid 2026 bukan milik satu tim, tapi milik gotong royong. Panggung butuh yang menonton. Penceramah butuh yang mendengar. Panitia butuh yang mendoakan.
Dengan ditutupnya Malam Puncak di Bujuk Santen ini, rangkaian 9 malam Bhujuk Safari Maulid 2026 resmi berakhir. Semoga syafaat Nabi Muhammad SAW sampai kepada kita semua, dan semangat kebersamaan ini terus terjaga hingga Safari tahun depan.
Dipenghujung acara MC maju dengan kertas di tangan.
"Alhamdulillah, donasi malam ini terkumpul Rp3.800.000."
Tepuk tangan. Tapi pelan.
Karena semua orang tahu, angka itu bukan soal uang. Itu soal berapa banyak orang yang rela mengeluarkan receh terakhirnya demi satu malam bersama Nabi.
Jamaah bubar pelan. Tidak ada yang buru-buru. Lampu-lampu dimatikan satu-satu. Tinggal sisa dupa dan sisa sholawat yang menggantung di udara.
"Mugo-mugo... tahun ngarep... ketemu maneh... neng kene...", gumam salah seorang Panitia
Tirai malam ke-9 turun. Riyadhah 9 Bujuk 2026 selesai.
Tapi ceritanya, baru saja dimulai di hati orang-orang yang pulang malam itu.
Semoga Allah mudahkan urusan kita semua, Amin
Kunjungi juga
https://www.youtube.com/live/fl2J3BKx5vA?si=9fH1hI0dTx7l0GlU
______
*Didikasihkan untuk Dokumentasi Riyadhah 9 Bhujuk Safari Maulid 2026 oleh Pak Anas

Posting Komentar untuk "TERAHIR, DI BAWAH LANGIT BHUJUK SANTEN*"
Silahkan berkomentar maupun bertanya tentang Info / Kegiatan / Konsultasi gratis di Website Sabda Ria Nada, Kami akan menjawab secepatnya. Terimakasih...