DARI DAPUR BELAJAR SYUKUR*
![]() |
Sabdarianada.Id | Sumbermalang -Pagi ini dapur pondok heboh.Santri putri yang sedang piket menggoreng tempe, tiba-tiba terdiam. Seorang laki-laki masuk tanpa salam, tanpa ragu, langsung menjulurkan tangan. Wajahnya familiar, tapi tidak sepenuhnya. Pakaiannya ustad, tutur katanya sopan, tapi matanya kosong menembus dinding.
"Saya disuruh Kyai," katanya pelan kepada penjaga dapur. "Minta makan."
Penjaga dapur bingung, santri putri panik. Dengan cekatan, mereka membungkuskan nasi, lauk, dan teh hangat, lalu menyodorkannya.
Dari dalam, saya mendengar kegaduhan kecil itu. Orang itu murid saya. Dari salah satu dusun di Kalirejo. Dulu dia mengajar di salah satu madrasah di kampungnya. Suaranya bagus, adabnya halus. Lalu dia masuk Paket C di Sabda Ria Nada. Entah lulus atau tidak, saya lupa.
Belakangan, entah kenapa, sebagian kesadarannya tentang dunia seperti dicabut. Bukan gila. Dia masih sopan. Kalau bertemu masih menunduk, masih mencium tangan. Masih memanggil saya "Kyai".
Tadi pagi, dia bertanya lagi, "Dimana Kyai?"
Saya ada di dalam. Saya mendengar. Tapi entah kenapa, kaki saya enggan melangkah menemuinya. Bukan karena saya malu dengan keadaannya. Justru saya malu dengan keadaan saya sendiri.
Saya takut. Karena ada sebuah pikiran yang menghantui saya sejak semalam: "Seseorang yang telah hilang sebagian kesadaran duniawinya lebih berhak mengaku dekat dengan Tuhan, dibandingkan orang yang masih hafal betul nama anaknya, istrinya, jumlah kambingnya, letak pintu dapurnya."
Dan saya? Saya hafal semuanya. Hati saya penuh. Terlalu penuh.
Ada kaidah sufi yang sering saya kutip: "Allah akan pergi dari hati seseorang jika dalam hati itu banyak disimpan selain Allah. Dan Allah akan berlama-lama di dalam hati jika selain Allah sudah menepi."
Murid saya itu, dunianya sudah menepi. Apakah itu berarti Allah sedang berlama-lama di hatinya? Sedangkan saya, dunia masih terlalu betah.
Saya takut menemuinya karena jangan-jangan, dengan kejernihan matanya yang kosong itu, dia mampu menangkap debu-debu yang menempel di hati saya.
Tapi kemudian saya ingat pelajaran yang baru minggu kemaren saya sampaikan. Bahwa "lupa" itu ada dua macam. Tidak semua lupa itu mulia.
Lupa yang pertama adalah Lupa yang Terpuji. Orang menyebutnya Majdzub.
Yaitu orang yang dicabut kesadarannya oleh Allah karena saking cintanya. Dia lupa jumlah kambingnya, lupa letak pintu dapurnya, bukan karena malas, tapi karena hatinya sudah penuh oleh Allah, tidak ada ruang lagi untuk yang lain. Seperti Uwais Al-Qarni. Ciri orang ini jelas: dia tidak pernah lupa kepada Allah. Sholatnya tetap dijaga, adabnya tetap sopan, lisannya tidak pernah menyakiti. Dan yang paling penting, dia tidak pernah mengaku dekat dengan Allah. Justru dia merasa paling hina.
Lupa yang kedua adalah Lupa yang Tercela.
Yaitu lupa karena memang lalai, karena lari dari tanggung jawab, karena tidak mau memikul beban hidup sebagai suami, sebagai ayah, sebagai hamba. Dia lupa anak dan istrinya, tapi bukan karena Allah, melainkan karena dunianya sendiri sudah berantakan. Lalu dia berdalih dengan kalimat suci untuk menutupi kemalasannya.
Lalu murid saya ini masuk yang mana? ENTAHLAH !
Saya tatap dia dari jendela. Dia makan dengan sopan, tidak berantakan. Setelah makan, bungkusnya dilipat rapi. Tidak menggerutu. Tidak marah saat disuruh keluar dari dapur putri. Tutur sapanya masih "ustad".
Nabi kita Muhammad SAW adalah manusia yang paling dekat dengan Allah. Tapi beliau hafal betul nama istri-istrinya. Hafal nama anak-anaknya. Hafal nama cucunya Hasan dan Husain. Beliau hafal jumlah kambingnya, bahkan beliau menggembala sendiri. Tahu betul letak pintu dapurnya.
Artinya, dekat dengan Tuhan itu bukan berarti meninggalkan dunia. Tapi menjadikan dunia di tangan, bukan di hati. Seperti kata Imam Al-Ghazali: _Jangan kau kira orang yang duduk di pojok masjid meninggalkan dunia itu lebih mulia. Yang mulia adalah orang yang dunia ada di tangannya, tapi tidak ada di hatinya._
Saya akhirnya keluar.
"Sehat, kang?" tanya saya.
Dia tersenyum. Senyum yang dulu, senyum ustad muda dari Kalirejo.
"Alhamdulillah, Kyai. Sudah kenyang."
Hari itu saya belajar dua hal. Pertama, saya tidak boleh buru-buru menghakimi bahwa orang yang lupa dunia pasti lebih dekat dengan Allah. Harus dilihat, lupanya karena apa.
Kedua, saya juga tidak boleh merasa lebih baik hanya karena saya masih hafal semua urusan dunia. Karena jangan-jangan, hafalan saya yang lengkap tentang jumlah pakan kambing, tentang nama anak dan istri, justru adalah tanda bahwa dunia masih terlalu banyak di hati saya.
Murid saya tidak minta uang hari ini. Dia hanya minta kenyang. Lalu ia pergi.
Meninggalkan saya yang masih berdiri di depan dapur.
Dari dapur ini pula Allah kembali mengajari saya arti Syukur, bahwa apapun yang hari ini Allah ijinkan melakat pada diri, termasuk hafalan lengkap tentang dunia, adalah juga anugerahnya.
Ahirnya saya pun berdoa : "Ya Allah, jangan jadikan dunia di hati saya. Cukup di tangan saya saja." Amin.
________
Sabtu, ahir Oktober 2026
Saat semua rasa berkecamuk di dada. Eppaen_Mely

Posting Komentar untuk "DARI DAPUR BELAJAR SYUKUR*"
Silahkan berkomentar maupun bertanya tentang Info / Kegiatan / Konsultasi gratis di Website Sabda Ria Nada, Kami akan menjawab secepatnya. Terimakasih...