JANGAN HANYA MEMBACA YANG TERSURAT, EJALAH JUGA YANG TERSIRAT*
Sabdariabada.Id SUMBERMALANG - Pondok Pesantren Sabda Ria Nada menggelar Upacara Hari Santri Nasional 2026 di halaman utama pesantren, Kamis pagi (22/10/2026). Di bawah langit Sumbermalang yang masih menyisakan embun Argopuro, seluruh santri, dewan guru, dan tamu undangan berdiri khidmat. Tahun ini genap 12 tahun sejak Hari Santri ditetapkan melalui Keppres No. 22 Tahun 2015.
Upacara dibuka dengan Lantunan Surat Al-Alaq ayat 1-5 dibaca pelan, diiringin suara desir angin dari Keybosrd Sabrina Albanjari. Seolah mengingatkan kembali, bahwa wahyu pertama turun dalam kesunyian. Ayat ini menyampaikan pesan, tugas santri adalah membaca. Membaca Al-Qur'an, membaca buku, membaca diri, dan membaca semesta.
Keheningan itu semakin pecah dengan suara adzan yang kumandankan oleh Ustad Anwar Nuris salah seorang Santri senior. Bukan sebagai panggilan sholat, melainkan sebagai simbol panggilan jihad, seperti adzan yang membangunkan santri pada Resolusi Jihad 1945 silam. Usai adzan, 41 ekor burung perkutut dilepaskan serentak ke langit. Berputar-putar di atas halaman, lalu hilang. Simbol kebebasan berpikir santri sejati, terbang tinggi namun tahu jalan pulang.
Tercatat ada perubahan petugas pembina. Semula dijadwalkan Bapak Kartijo, M.Pd., satu-satunya guru PNS di Sabda Ria Nada. Karena alasan kesehatan, amanat disampaikan langsung oleh Pengasuh Pondok, H. Hasbiallah, S.Ag.
Di sinilah upacara menemukan maknanya. Beliau mengaitkan angka 12 dengan Surat Yusuf, surat ke-12 dalam Al-Qur'an.
"Angka 12 ini bukan kebetulan," tegasnya. "Begitulah santri seharusnya. Seperti Nabi Yusuf AS. Walau dibuang ke sumur oleh saudaranya, difitnah, dan dipenjara, beliau tetap menjadi pelita, tetap menjadi permata."
Lalu beliau melanjutkan pada lapisan yang lebih dalam, yang sering kita lupakan. Nabi Yusuf bukan hanya sosok yang sabar. Beliau adalah seorang ekonom ulung. Di saat Mesir terancam mati oleh kemarau panjang tujuh tahun, Yusuf-lah yang merancang strategi lumbung pangan Nasional, menyelamatkan sebuah negara dari kelaparan. Dari penjara, beliau mengelola negara. Di sinilah peran santri sangat diperlukan.Santri tidak cukup hanya pandai membaca kitab kuning tapi juga harus melek ekonomi, agar bisa menyelamatkan keluarganya, pesantren dan desanya dari kelaparan zaman ini, kelaparan ilmu, lapar ekonomi dan lapar Ahlaq.
Dan lebih dari itu, Yusuf bukan hanya pandai membaca fakta, tapi mampu membongkar apa yang ada di balik realita. Beliau adalah pentakbir mimpi ulung di zamannya. Saat semua orang melihat tujuh sapi gemuk dan tujuh sapi kurus hanya sebagai bunga tidur Raja, Yusuf mampu mengeja maknanya sebagai isyarat krisis yang akan datang.
"Di sinilah tugas santri hari ini," lanjut H. Hasbiallah. "Jangan hanya mampu membaca yang tersurat, tapi harus berani mengeja yang tersirat. Jangan hanya melihat HP sebagai HP, tapi bacalah apa di baliknya. Jangan hanya melihat pergaulan sebagai pergaulan, tapi bacalah ke mana ia akan membawa."
Lalu bagaimana caranya?
"Santri harus rajin berlatih duduk dalam hening. Hening dalam diam, tenang dalam kesendirian. Dalam bahasa tarekat itu disebut tawajjuh, dalam filsafat disebut kontemplasi, dalam kejawen disebut meditasi. Tanpa keheningan itu, santri tidak akan pernah bisa menjadi pentakbir zaman."
Amanat ditutup dengan pesan sederhana namun mengikat, tetap bangga menjadi santri di mana pun berada. Di rumah menjadi santri dengan mematuhi orang tua, di sekolah dengan menghormati guru, bahkan di hadapan HP dengan menggunakannya untuk hal-hal yang baik dan mulia.
Upacara berakhir dengan musafahah, seluruh peserta saling berjabat tangan diiringi sholawat qiyam ala Sabrina Al-Banjari. Rasa haru masih menggantung ketika panitia mempersilahkan makan bersama. Hidangan dari sembelihan 2 ekor kambing, shodaqoh dari Ibu Ramla Kalirejo untuk aqiqah Almarhum Bapak Satija dan shodaqoh dari Bapak Hamim Sumberargo untuk aqiqah Mohammad Hamim.
Siang itu langit di atas Sabda Ria Nada kembali cerah. 41 perkutut sudah tidak terlihat, namun pesannya tertinggal. Semoga sedikit yang bisa kita persembahkan dinilai ibadah oleh Allah, SWT Amin.
_______
Eppaen_Mely

Posting Komentar untuk "JANGAN HANYA MEMBACA YANG TERSURAT, EJALAH JUGA YANG TERSIRAT*"
Silahkan berkomentar maupun bertanya tentang Info / Kegiatan / Konsultasi gratis di Website Sabda Ria Nada, Kami akan menjawab secepatnya. Terimakasih...