Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

MENGENANG HARGA DIRI RUPIAH DALAM FILM KELANA*

Ilustrasi Konser Rhoma Irama

Sabdarianada.Id | SUMBERMALANG - Sudah beberapa hari lidah ini terasa pahit. Nasi yang biasanya dua piring ludes tak bersisa, kini setengah sendok pun seolah menolak untuk turun. Kepala berdenyut, sekujur tulang ngilu seperti habis dipukuli. Batuk kering datang setiap kali saya merebahkan badan.

Di luar, panas menyengat minta ampun. Di dalam kamar, angin serak masuk melalui celah langit-langit yang mulai berlubang. Tangan saya meraih HP. Entah kenapa, di tengah sakit ini saya justru ingin menonton Film Kelana I. Film tahun 1979 yang dibintangi Rhoma Irama dan Yati Octavia.

Adegan pembuka langsung menampar ingatan saya. Gitar Rhoma dibanting ayahnya hingga hancur berkeping-keping, hanya karena kecintaannya pada musik. Ia pun minggat dari rumah. Di dalam dompetnya, hanya ada uang dua ribu rupiah.

Di tengah jalan, uang itu nyaris dicopet orang. Namun tangan Rhoma lebih cepat, ia berhasil menangkap tangan si pencopet. Yang membuat saya terdiam lama di atas ranjang panas ini adalah apa yang terjadi setelahnya. Uang dua ribu itu ia bagi dua. Seribu untuk dirinya, seribu ia berikan kepada pencopet itu.

Saya jeda filmnya. Dua ribu rupiah dibagi dua, dan dua orang masih bisa hidup?

Cerita terus berjalan. Teman ngamen Rhoma yang bernama Dani harus menjalani operasi jantung dan paru-paru. Berapa biayanya? Tertulis Rp 150.000. Saya cek deskripsi film, benar dirilis tahun 1979.

Pikiran saya melayang ke tahun 1985. Saya masih ingat betul, saat pertama mondok, nasi sepiring masih Rp 150 rupiah. Dengan uang seribu rupiah saja, orang sudah bisa makan kenyang dan bertahan hidup 2 sampai 3 hari.

Lalu sekarang, tahun 2026. Seribu rupiah bahkan tidak cukup untuk bayar parkir. Untuk sekali makan di warteg saja butuh Rp 15.000. Untuk operasi jantung? Butuh ratusan juta.

Di atas ranjang sakit inilah, pertanyaan itu terasa lebih nyeri dari ngilu di sekujur badan: Mengapa nilai rupiah makin ke sini makin tidak berdaya, bahkan untuk membeli barang di negerinya sendiri saja tidak kuasa?

Ini bukan karena rupiah kualat. Ada hukum ekonomi yang bekerja.

1. Inflasi Adalah Takdir Uang Kertas

Nilai uang kertas akan turun karena jumlahnya terus bertambah. Tahun 1979, uang yang beredar di Indonesia masih sedikit. Negara mencetak uang sesuai dengan cadangan emas dan barang yang ada. Sekarang, Bank Indonesia harus mencetak lebih banyak untuk mengejar jumlah penduduk yang melonjak dari 140 juta menjadi 280 juta, dan untuk membiayai pembangunan. Semakin banyak uang beredar, semakin kecil daya belinya. Itulah inflasi. Nasi tahun 1985 yang Rp 150 menjadi Rp 15.000 sekarang, bukan nasinya yang menjadi mahal, tapi rupiahnya yang mengecil.

2. Kita Masih Bangsa Pengimpor

Di Film Kelana, gitar Rhoma masih terbuat dari kayu lokal. Sekarang, hampir semua yang kita pakai berbau dolar. HP yang saya pakai menonton, motor, obat batuk yang saya minum, bahkan kedelai untuk tempe, kita impor. Selama kita masih butuh dolar untuk membeli barang dari luar negeri, rupiah akan terus tertekan. Dolar naik sedikit, harga di warung langsung ikut naik.

3. Produktivitas vs Gengsi

Dulu uang Rp 2.000 dibagi dua masih bisa untuk bertahan hidup dua hari karena kebutuhan hidup masih sederhana. Sekarang kebutuhan kita jauh lebih banyak. Listrik, kuota internet, bensin, biaya sekolah anak. Pendapatan kita memang naik, tapi pengeluaran naik jauh lebih cepat.

BAGAIMANA SEBAIKNYA BERSIKAP?

Rhoma membagi uang dua ribu itu bukan karena bodoh. Itu adalah pelajaran.

1. Jangan Simpan Semua dalam Rupiah Kertas

Orang tua kita dulu benar. Jika ada rezeki lebih, belikan tanah, belikan kambing, belikan emas meski kecil. Tanah di Sumbermalang tahun 1985 mungkin harganya Rp 500 ribu, sekarang bisa Rp 100 juta. Emas tidak pernah kalah oleh inflasi. Simpan rupiah secukupnya untuk kebutuhan sebulan, sisanya amankan dalam bentuk aset yang tahan inflasi.

2. Hidup dari Tanah Sendiri

Selama kita masih makan dari beras impor, kita akan terus dijajah oleh harga. Siapa yang punya singkong di belakang rumah, punya tiga ekor ayam, punya cabai di dalam pot, dia akan lebih kebal dari guncangan rupiah dibanding orang yang semua serba membeli.

3. Skill Adalah Mata Uang Baru

Rhoma diusir tanpa membawa apa-apa, tapi ia punya keahlian bermain gitar. Dengan keahlian itu ia bisa mengamen dan bertahan hidup. Di zaman sekarang, keahlian mengaji, keahlian servis HP, keahlian bertani, jauh lebih tahan terhadap inflasi daripada sekadar ijazah.

Film Kelana berakhir dengan Rhoma kembali pulang dan diterima oleh ayahnya setelah membuktikan bahwa musik bisa menjadi jalan dakwah. Saya yang menonton sambil demam ini jadi paham, mungkin sakit ini adalah cara Allah menyuruh saya berhenti sejenak untuk merenung, seperti Rhoma.

Rupiah mungkin melemah, tapi jangan sampai semangat kita ikut melemah. Dua ribu rupiah tahun 1979 bisa dibagi dua karena hatinya luas. Hari ini, mungkin rezeki kita pun harus dibagi juga, bukan hanya untuk perut, tapi untuk sedekah tolak bala dan untuk kesehatan.

Semoga Allah membimbing kita semua, memberi kesehatan dan umur yang panjang. Amin.

________

Saat sedang tidak baik2 saja

Hasbiallah

Posting Komentar untuk "MENGENANG HARGA DIRI RUPIAH DALAM FILM KELANA*"