WAJAH BARU BHUJUK BILES TLOGOSARI*
![]() |
| Suasana Khotmil Qur'an di Astah Bhujuk Biles Tlogosari |
Sabdarianada.Id | Sumbermalang - Rencana boleh disusun manusia, tapi keputusan selalu di tangan Allah, Itulah yang terjadi pada puncak perayaan Hari Santri Nasional Pondok Pesantren Sabda Ria Nada tahun ini.
Jadwal semula Khotmil Qur'an penutup hendak digelar di area Pemakaman Bhujuk Inya, Perhutani Baderan, Sabtu 24 Oktober 2026. Medan ke Bhujuk Inya terlalu ekstrem untuk jamaah sepuh, anak-anak dan santri putri, sementara terik Baderan di siang hari bisa menyengat ubun-ubun. Demi kemaslahatan, bukan demi gengsi, lokasi pun dipindah ke Pemakaman Bhujuk Biles, Tlogosari.
Letaknya tidak jauh, hanya 500 meter ke timur dari Pesantren Sabda Ria Nada. Jarak yang cukup ditempuh dengan kaki telanjang sambil bersholawat. Pemugarannya pun menjadi kisah tersendiri. Dimulai Rabu 21 Oktober, yang awalnya diperkirakan selesai sepekan, berkat tangan-tangan ikhlas warga Morsabe Tlogosari, Jum'at 23 Oktober kemarin sudah rampung. Rapi, bersih, dan teduh. Seolah sang bhujuk sendiri yang ingin menyambut para pembaca Qur'an dengan nyaman.
Siapa Bhujuk Biles?
Seperti kebanyakan bhujuk di daerah lain, tidak ada data pasti tentang beliau. Tidak ada manuskrip yang mencatat tahun hidupnya atau silsilahnya. Yang tersisa hanya nama dan karomah yang hidup di lisan masyarakat.
Biles, dalam bahasa Madura berarti "Semut", Dalam Al-Qur'an, ia adalah "An-Naml".
Lantas mengapa seorang wali berjuluk semut?
Para sepuh Tlogosari bercerita sederhana: Jika hujan turun terlalu ekstrim hingga tembakau terancam tidak bisa kering, masyarakat datang ke Bhujuk Biles sebagai wasilah, memohon diberi panas. Sebaliknya, jika kemarau terlalu panjang dan air mulai kering, mereka pun datang lagi, menantikan hujan melalui wasilah beliau.
Jawaban itu ternyata sudah diabadikan Allah 14 abad lalu dalam Surat An-Naml.
Allah berfirman dalam QS. An-Naml: 18-19
حَتَّىٰٓ إِذَآ أَتَوْا۟ عَلَىٰ وَادِ ٱلنَّمْلِ قَالَتْ نَمْلَةٌ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّمْلُ ٱدْخُلُوا۟ مَسَٰكِنَكُمْ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَٰنُ وَجُنُودُهُۥ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ
Artinya: "Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari."
فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِّن قَوْلِهَا وَقَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِىٓ أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ ٱلَّتِىٓ أَنْعَمْتَ عَلَىَّ وَعَلَىٰ وَٰلِدَىَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَٰلِحًا تَرْضَىٰهُ وَأَدْخِلْنِى بِرَحْمَتِكَ فِى عِبَادِكَ ٱلصَّٰلِحِينَ
Artinya: "Maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa: Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh."
Perhatikan, dalam ayat itu semut bukan mengatur pasukan Sulaiman. Ia hanya membaca getaran tanah. Ia tahu kapan pasukan akan lewat, kapan bahaya akan datang, kapan harus berlindung.
Ilmu modern membuktikan semut adalah ahli klimatologi paling tua. Sebelum hujan turun, ia menutup lubang sarangnya. Sebelum panas menyengat, ia memindahkan telurnya ke ruang paling lembab.
Maka sangat mungkin, Bhujuk Biles adalah sosok seperti itu di zamannya. Bukan mengatur hujan, tapi membaca tanda-tanda langit. Ia adalah pentakbir, seperti Nabi Yusuf. Yusuf mentakbirkan mimpi raja tentang 7 tahun subur dan paceklik. Bhujuk Biles mentakbirkan kapan petani harus menanam dan kapan harus menahan diri.
Ia kecil seperti semut, tidak tercatat dalam sejarah negara, tapi ilmunya menyelamatkan banyak manusia.
Pemindahan acara dari Bhujuk Inya ke Bhujuk Biles tahun ini pun seolah mengikuti sifat semut itu sendiri. Bhujuk Inya di hutan Perhutani yang jauh, simbol keperkasaan dan uzlah. Sementara Bhujuk Biles 500 meter dari pesantren, di tengah masyarakat, simbol semut: kecil, dekat, bekerja dalam senyap, tapi kehadirannya dirasakan semua orang.
Hari Santri tahun ini mengajarkan kita dua hal dari Yusuf dan Biles. Yusuf mengajarkan menjadi ekonom, menyimpan untuk masa sulit. Biles mengajarkan menjadi semut, yang tahu kapan harus meminta panas dan kapan harus meminta hujan.
Ahirnya pimpinan Sabda Ria Nada menyampaikan terimaksih yang sedalam-dalamnya kepada para tetangga yang telah menyiapkan tempat, makan dan minum untuk jemaah.
Terimakasih pula kepada seluruh masyarakat utamanya pak Dilan, pak Bagas, pak Eva, pak Jub, pak Mad, pak Agus Jetem yang telah bergotong royong menyelesaikan renovasi Bhujuk Biles, semoga bhakti mereka diterima Allah, SWT Amin.
Al-Fatihah untuk Bhujuk Biles dan seluruh keluarga kita yang telah berpulang, Amin.
_________
eppaan_Anas

Posting Komentar untuk "WAJAH BARU BHUJUK BILES TLOGOSARI*"
Silahkan berkomentar maupun bertanya tentang Info / Kegiatan / Konsultasi gratis di Website Sabda Ria Nada, Kami akan menjawab secepatnya. Terimakasih...