Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

JUM'AT LEGI : INDIVIDU-INDIVIDU YANG INGIN SELALU MENYATU

sabdarianada.co.id. Ada banyak Tradisi Hasanah yang sudah belasan Tahun terus dilaksanakan di Yayasan Sabda Ria Nada Sumbermalang diantaranya Istighasah (Sarwaan) malam Jum'at Manis (legi) yang sedianya harus diikuti oleh semua wali murid, siswa kelas Ahir, Guru dan Pengurus serta sebagian tokoh masyarakat setempat. 
Penetapan Jum'at Legi bukan kebetulan dan tanpa alasan. Selain Hari Jum'at diyakini sebagai Sayyidul Ayyam, hari terbaik dengan segudang keutamaan yang sangat dimuliakan oleh segenap kaum Muslimin, sebagai mana orang Yahudi memuliakan hari Sabtu dan saudara Nasrani memuliakan hari Minggu, kata Al-Jum’ah sendiri mengisyaratkan ma'na : persatuan, persahabatan, kerukunan [al-ulfah], dan pertemuan [al-ijtima]1.
Kemudian dalam khasanah Madura dan Jawa Klasik Jumat Legi dinyatakan memiliki jumlah neptu 11. Angka 11 diperoleh dari hasil penggabungan antara nilai pasaran Legi (5) dan nilai hari Jumat (6). Hari dengan Neptu 11 diyakini memiliki watak penyabar, berhati longgar, tidak pelit, tabah, tidak gampang mengeluh dan yang paling penting Pandai menutupi kesulitan yang di hadapi dari pandangan orang lain (mandiri)2.
Lebih dari sekedar itu, angka 11 adalah angka yang akan selalu ada walaupun berusaha untuk di-tiadakan oleh siapapun juga, kecuali oleh yang maha ada. Angka 11 pada hakekatnya adalah angka satu yang menampakkan diri dua kali ( 1 dan 1). Jika 1+1 hasilnya 2. Dua dalam angka romawi adalah II=11. 1x1 = 1, 1/1 =1, 1-1=0. Artinya angka  11 adalah simbol penampakan Tuhan ( 1 pertama) di dalam hati setiap Mahluqnya ( 1 kedua). 
Ketika Allah hadir di dalam hati setiap mahluqnya, Allah tidak perlu mengkalikan dirinya menjadi berlipat-lipat untuk memenuhi semuanya. Allah tetap satu-satunya yang Maha Satu tetapi bisa memenuhi dan meliputi segalanya (1x1=1). 
Begitu juga ketika Allah membagi  kasih sayangnya kepada seluruh Mahluqnya, tidak akan berkurang sedikitpun kemaha besaran dan kemaha Kayaan Allah walaupun semua Mahluqnya telah mendapatkan seluruh limpahan Kasih sayangnya (1/1=1). 
Namun apabila Mahluqnya melepaskan diri atau terlepas dari Kasih sayang Allah, hasilnya adalah hampa (0), sedangkan Allah tetap Tuhan yang maha segalanya walaupun tanpa sembah dan sujud hamba-hambanya (1-1=0). Semuanya bermula dari Angka 1 dan akan kembali menuju Angka Satu. Karena hanya 1 yang MAHA ADA. Adanya tidak perlu DIADAKAN. Yang maha 1 sudah ADA sebelum yang lain ADA. dan akan terus dan selalu ADA walaupun yang lain sudah tidak ADA. 
Singkatnya Angka 11 adalah gambaran dari Peristiwa meleburnya Mahluq ke dalam DIRI penciptanya (ITTIHAD) atau menyatunya sang Pencipta ke dalam diri Hambanya (HULUL) dalam konsep Tasawuf Al-Hallaj. Dua peristiwa besar ini melahirkan situasi FANA', lenyapnya segala yang ada selain (ALLAH) yang maha ADA  (Wahdatil Wujud) dalam Konsep Tasawuf Ibnu Arobi atau (Manunggaling Kawula Gusti) dalam ajaran Syeh Siti Jenar.
Sejalan dengan ini Firman Allah Dalam Hadis Kudsi   dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah saw  bersabda : “Berfirman Allah Subhanahu wa ta’ala, ‘Aku  menurut prasangka hambaku kepadaku, Aku bersamanya ketika dia mengingatku, jika hambaku mengingatku dalam sendirian,maka Aku mengingatnya dalam diri-Ku sendiri, jika dia mengingatku di dalam sebuah kelompok/jama’ah,  Aku mengingatnya dalam kelompok yang lebih baik , dan jika dia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta,  jika dia mendekat kepadaku sehasta, Aku mendekat kepadanya satu depa, dan jika dia mendatangiku dengan berjalan kaki, Aku mendatanginya dengan berlari-lari’ ”(Hadits diriwayatkan oleh Imam Bukhari, begitu juga oleh Imam Muslim, Imam Tirmidzi danImam Ibnu Majah.)
Apabila anggka 11 kita tarik ke Ranah Irodah (kehendak) memperlihatkan kesesuaian antara kehendak Hamba dengan Kehendak penciptanya. Atau sejalannya kehendak Sang Pencipta ( Allah) dengan kehendak Hamba-hambayan. Perintiwa ini melahirkan kemampuan mewujudkan sesuatu        (Qudrat) yang selanjutnya melahirkan Potensi (Kun Fa Yakun)  bersama-sama mewujudkan sesuatu, dan sesuatu itu akan segera ADA pada saat itu Juga. Karena itu olah raga yang memerlukan kerja Tim tingkat Tinggi jumlah pemainnya selalu 11 seperti sepak Bola. 
Dalam Tradisi Pesantren, orang yang mampu mencapai tingkatan ini di sebut Mandih Pangocap (Madura) artinya apa yang diucapkan akan menjadi kenyataan tidak lama setelah ucapan itu disampaikan.Seperti yang diperlihatkan Syeh Kholil Bangkalan, ketika belliau melihat lombok di utara masjid belum juga merah beliau bilang, Cabbih ma' tak mera torah ( Lombok ini kok belum merah-merah juga) pada saat itu juga lombok yang tadinya masih hijau muda itu, langsung berubah menjadi merah tua semua3 .
Tentu saja untuk mencapai maqam tersebuat seorang Hamba harus melewati tahapan-tahapan yang tidak sederhana seperti yang di ucapkan.  Tahapan pertama, dia harus BER TAKHALLI, berusaha keras membersihkan diri dari sifat-sifat yang tercela seperti Sombong, Ujub, riyak dan semacamnya. Tahapan berikutnya BERTAHALLI, menghiasi diri dengan sifat-sifat terpuji, Sabar, Zuhud, Ikhlas, Ridha dan semacamnya. Selanjutnya naik ketahapan ketiga, TAJALLI. Pada Tahap ini seorang hamba sudah mampu menghadirkan tuhan (Allah) dalam dirinya4. Sehingga Antara DIA dan ALLAH ibarat dua sisi mata uang. Bisa dibedakan tapi tidak bisa dipisahkan.
Adooookah, bagian ini memang sangat Asyik dan mudah sekali dibicarakan, tapi Demi Allah, Demi Rasul dan demi semuanya tidak mudah dipraktekkan.  Dengan membaca buku, membaca kitab atau mendengar keterangan Guru, siapaun menjadi pandai mencerikan hal ini. Tapi sekali lagi, orang yang mampu berbicara belum tentu mampu merasakan. Butuh kerja keras dan bimbingan langsung dari Allah, SWT.
Seiring dengan semakin bertambahnya Alumni yang sudah menikmati pendidikan Tinggi, Kegiatan Jum'at Legi (manis) semakin ditingkatkan lagi. Sejak delapan bulan terahir kegiatan ini tidak hanya menjadi Ajang Silaturahmi, Yasin dan Tahlil, tapi juga mulai ditambah Kajian Safinatun Najah Karya Syeh Salim bin Samir Al Hadromi Wafat pada Tahun 1271 Hijriyah di Batavia (Jakarta) sekarang..
Para Alumni yang sudah menikmati Pendidikan tinggi secara bergantian menjadi Penyaji. 
Semoga gagasan apapun yang dimunculkan melalui kegiatan ini, senantiasa menjadi berkah untuk semuanya, terutama buat Lembaga, para siswa dan Umat Islam seluruhnya. Hanya kepada Allah kita berharap dan melabuhkan semua Impian, Amin.  
Teruntuk semuanya saja 
Yang masih Punya semangat Membaca 
Sumber :
  1. Kifatul Akhyar, Imam Taqiyuddin Bin Abu Bakar Muhammad Al Husaini
  2. Mujarabat Adam Ma'na, Kesultanan Yogyakarta
  3.  Fuad Amin Imran, Syaehona Holil Bangkalan, 2012
  4. Tanwirul Qulub, Syeh Amin Al Qurdi


Posting Komentar untuk "JUM'AT LEGI : INDIVIDU-INDIVIDU YANG INGIN SELALU MENYATU"